Teknologi kloning suara AI kini dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menjalankan penipuan berbasis AI yang semakin sulit dideteksi. Dengan hanya bermodal sampel suara singkat, pelaku mampu meniru suara seseorang secara akurat untuk mengelabui korban, terutama dalam skema penipuan finansial.
Pakar dari Charles Sturt University, Australia, mengungkapkan bahwa pelaku hanya membutuhkan rekaman suara berdurasi sekitar tiga detik untuk menghasilkan tiruan suara yang meyakinkan. Teknologi ini mampu mereplikasi intonasi, aksen, hingga karakter vokal secara presisi, sehingga sulit dibedakan dari suara asli.
Modus yang sering digunakan adalah menciptakan situasi darurat palsu. Pelaku berpura-pura sebagai anggota keluarga atau orang terdekat yang membutuhkan bantuan dana segera. Karena suara terdengar autentik, korban kerap tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi target penipuan.
Modus Ambil Sampel dari Telepon dan Media Sosial
Ahli keamanan siber menjelaskan, sampel suara sering diperoleh dari interaksi sederhana, seperti saat korban menjawab telepon dengan kata “halo” atau “dengan siapa”. Potongan suara singkat tersebut sudah cukup untuk diproses menjadi model suara berbasis AI.
Selain itu, konten audio dan video yang diunggah ke media sosial seperti TikTok juga menjadi sumber data bagi pelaku. Rekaman yang tersedia secara publik dapat diunduh dan digunakan untuk melatih sistem kloning suara tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Laporan dari Federal Bureau of Investigation (FBI) menyebutkan bahwa praktik ini termasuk dalam kategori smishing dan vishing. Kedua metode tersebut menggabungkan manipulasi komunikasi dengan tautan berbahaya, mirip dengan teknik phishing yang umum digunakan melalui email.
Cara Melindungi Diri dari Penipuan Kloning Suara
Menanggapi ancaman ini, pakar dari University of Rochester, Matthew Wright dan Christopher Schwartz, menekankan pentingnya verifikasi identitas dalam setiap komunikasi mencurigakan. Mengandalkan nomor telepon atau caller ID saja tidak lagi cukup, karena data tersebut dapat dipalsukan secara digital.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk menetapkan “kata sandi keluarga” sebagai alat verifikasi saat menerima permintaan darurat. Selain itu, penting untuk melakukan konfirmasi ulang melalui saluran komunikasi lain yang terpercaya.
Pengguna juga perlu membatasi jejak digital, terutama dalam membagikan konten suara atau video di platform publik. Mengatur akun menjadi privat dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan data suara.
Terakhir, tetap bersikap kritis terhadap panggilan dari nomor tidak dikenal. Ajukan pertanyaan pribadi yang hanya diketahui oleh orang terdekat untuk memastikan identitas penelepon.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






