Pasar pakaian bekas global diperkirakan melonjak 12% pada tahun ini hingga mencapai US$289 miliar, seiring meningkatnya peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan influencer media sosial dalam membantu konsumen menemukan produk yang diinginkan.
Pertumbuhan ini diproyeksikan terus berlanjut dengan rata-rata kenaikan 9% per tahun dalam lima tahun ke depan, hingga menembus US$393 miliar. Angka tersebut menunjukkan laju pertumbuhan yang dua kali lebih cepat dibandingkan pasar pakaian secara keseluruhan.
Laporan tahunan dari ThredUp yang mengacu pada data GlobalData mencatat bahwa nilai pasar ini telah meningkat signifikan sejak 2021 yang masih berada di kisaran US$141 miliar. Kini, segmen resale bahkan telah menyumbang sekitar 10% dari total penjualan pakaian global.
Sejumlah merek ternama seperti Dr Martens, Zara, dan Mulberry mulai merespons tren ini dengan menghadirkan lini produk secondhand serta layanan perbaikan dan restorasi. Langkah ini diambil untuk menjawab tingginya minat konsumen terhadap produk fesyen yang lebih terjangkau.
Platform Resale Tumbuh, Profit Masih Jadi Tantangan
Lonjakan minat terhadap tren pakaian secondhand juga tercermin dari kinerja platform jual beli. ThredUp mencatat pertumbuhan penjualan hingga 20% menjadi US$310,8 juta. Sementara itu, Depop membukukan kenaikan 42% menjadi £101 juta, dan Vinted melonjak 36% hingga €813,4 juta pada 2024.
Namun, tidak semua pemain berhasil mencetak keuntungan. ThredUp masih mencatat kerugian sebelum pajak sebesar US$20 juta, sedangkan Depop merugi £42 juta. Di sisi lain, Vinted menjadi satu-satunya yang membukukan laba, yakni €76,7 juta. Depop sendiri telah dijual ke eBay oleh pemilik sebelumnya, Etsy.
CEO ThredUp, James Reinhart, menilai potensi inflasi akibat konflik global—termasuk ketegangan di Iran yang mendorong kenaikan biaya energi dan bahan bakar—dapat mempercepat peralihan konsumen ke produk bekas sebagai alternatif yang lebih hemat.
Peran AI dan Generasi Muda
Teknologi AI kini menjadi faktor kunci dalam mengelola jutaan inventaris produk di platform resale. Sistem ini memungkinkan proses kurasi dan pencarian barang menjadi lebih cepat dan relevan bagi pengguna.
Reinhart menilai AI mampu memangkas waktu yang sebelumnya dibutuhkan bertahun-tahun untuk membangun algoritma rekomendasi, seperti yang dilakukan platform streaming. Kini, proses tersebut bisa dilakukan hampir secara instan.
Selain itu, integrasi antara media sosial dan platform belanja dinilai semakin mengurangi hambatan dalam proses pembelian. Konsumen dapat langsung bertransaksi setelah menemukan produk di feed mereka.
Kelompok usia 14 hingga 45 tahun, yang mencakup Gen Z dan milenial, diperkirakan akan menjadi motor utama pertumbuhan pasar dengan kontribusi hingga 70%. Menurut GlobalData, perubahan perilaku generasi ini menuntut ekosistem discovery yang lebih terintegrasi dengan platform sosial.
Di tengah pertumbuhan yang pesat, industri ini juga menghadapi tantangan baru. Infrastruktur teknologi dan kemudahan bagi penjual menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan stok tetap mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






