Bank sentral global memilih menahan suku bunga sepanjang Maret 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah. Lonjakan harga energi dan risiko inflasi yang kembali naik membuat otoritas moneter berhati-hati, sekaligus menghadapi ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Sebagian besar negara maju mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan. Dari sembilan pertemuan bank sentral utama, delapan di antaranya memutuskan untuk menahan kebijakan. Hanya Australia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadikannya satu-satunya negara maju yang memperketat kebijakan moneter sepanjang bulan tersebut.
Sementara itu, di negara berkembang, arah kebijakan terlihat lebih beragam namun tetap cenderung hati-hati. Dari 15 pertemuan bank sentral, 10 negara memilih menahan suku bunga. Empat negara—Rusia, Brasil, Meksiko, dan Polandia—melakukan pemangkasan terbatas. Rusia memangkas sebesar 50 basis poin, sedangkan tiga negara lainnya masing-masing sebesar 25 basis poin. Kolombia menjadi pengecualian dengan kenaikan agresif sebesar 100 basis poin.
Ketidakpastian Global Menahan Pelonggaran
Sejumlah bank sentral, termasuk Indonesia, Afrika Selatan, Filipina, Hungaria, dan Republik Ceko, secara terbuka menyebut ketegangan di Timur Tengah sebagai faktor utama yang menahan langkah pelonggaran. Risiko inflasi yang dipicu harga minyak membuat ruang penurunan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh pelaku pasar. JPMorgan menilai dampak kenaikan harga energi belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan saat ini. Proyeksi ke depan cenderung mengarah pada inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah, sehingga bank sentral diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah.
Inflasi dan Pertumbuhan Jadi Tarik Ulur
Kondisi ini mencerminkan dilema yang dihadapi bank sentral global: menyeimbangkan antara menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang untuk pelonggaran kebijakan menjadi semakin sempit.
Secara kumulatif, negara berkembang masih mencatat pelonggaran bersih sebesar 175 basis poin sepanjang tahun ini. Angka tersebut berasal dari total pemangkasan 375 basis poin yang dikurangi dengan kenaikan suku bunga di Kolombia sebesar 200 basis poin. Perbedaan kebijakan ini menunjukkan bahwa proses penurunan inflasi belum merata di berbagai negara.
Dengan latar belakang global yang semakin kompleks, arah kebijakan moneter ke depan diperkirakan tetap bergantung pada perkembangan geopolitik dan dinamika harga energi dunia.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






