Revolusi shale yang mengangkat Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia kini menemukan gaungnya di Timur Tengah. Melalui Proyek Gas Jafurah, Arab Saudi berupaya menciptakan lompatan baru dalam pengembangan Shale Arab Saudi sekaligus memperkuat posisi globalnya di sektor gas alam.
Di kawasan gurun tenggara ladang minyak raksasa Saudi Aramco, perusahaan energi milik negara tersebut mengembangkan megaproyek gas senilai sekitar 100 miliar dolar AS. Proyek ini digadang-gadang menjadi salah satu pengembangan shale gas terbesar di luar Amerika Serikat.
Untuk mempercepat proses pengeboran, Aramco menggandeng sejumlah perusahaan internasional seperti Halliburton dan Sinopec. Teknologi yang digunakan termasuk “walking rigs”, yaitu menara bor canggih yang mampu berpindah lokasi tanpa perlu dibongkar pasang. Inovasi ini dinilai mampu memangkas waktu serta meningkatkan efisiensi penyelesaian sumur.
Strategi Besar di Balik Shale Arab Saudi
Lapangan Jafurah diperkirakan menyimpan sekitar 229 triliun kaki kubik gas mentah dan 75 miliar barel kondensat. Angka tersebut menjadikan Proyek Gas Jafurah sebagai aset strategis bagi ekspansi Shale Arab Saudi.
Produksi resmi diumumkan mulai Desember 2025. Pencapaian ini menjadi tonggak penting setelah bertahun-tahun tahap persiapan dan pengembangan teknologi. Presiden Divisi Hulu Aramco, Nasir Al-Naimi, menyebut performa awal sumur menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Ia menilai pendekatan berbasis teknologi tinggi menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
Secara ekonomi, dampaknya sangat signifikan. Saat ini, Arab Saudi masih menggunakan lebih dari satu juta barel minyak per hari untuk kebutuhan listrik domestik. Aramco menargetkan penggantian sekitar 500.000 barel per hari dengan gas pada 2030. Dengan harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel, pengalihan tersebut berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan hampir 12,8 miliar dolar AS per tahun dari ekspor minyak.
Aramco memperkirakan ekspansi gas ini dapat menciptakan arus kas operasional tambahan antara 12 hingga 15 miliar dolar AS pada 2030. Target tersebut selaras dengan agenda diversifikasi ekonomi yang dicanangkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman melalui program Vision 2030.
Selain sektor energi, pengembangan Shale Arab Saudi juga diproyeksikan mendukung industri petrokimia, kecerdasan buatan, serta sektor manufaktur strategis lainnya. Dengan memaksimalkan gas domestik, kerajaan berharap dapat mengurangi ketergantungan pada pembakaran minyak mentah untuk pembangkit listrik.
Langkah ini menandai perubahan arah kebijakan energi Saudi. Ketika rencana peningkatan kapasitas minyak dikaji ulang, fokus pada Proyek Gas Jafurah justru diperkuat sebagai pilar pertumbuhan baru.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






