Iceland Akhiri Sengketa Merek Dagang dengan Islandia, Siapkan Diskon Khusus untuk Warga

sengketa merek dagang
Sumber Foto : Canva

Perseteruan panjang terkait sengketa merek dagang antara jaringan supermarket Inggris, Iceland, dan pemerintah Iceland akhirnya berakhir. Setelah hampir satu dekade berselisih, perusahaan ritel tersebut memutuskan menghentikan upaya hukum di tingkat Uni Eropa dan memilih jalur damai.

Sebagai bentuk pendekatan baru, manajemen menyiapkan “diskon rekonsiliasi” bagi warga Islandia. Langkah ini menjadi penanda berakhirnya sengketa merek dagang yang telah bergulir sejak 2016.

Ketua eksekutif Iceland, Richard Walker, menyampaikan kepada Financial Times bahwa perusahaan tidak akan melanjutkan banding ke pengadilan Uni Eropa. Dana ratusan ribu poundsterling yang semula dialokasikan untuk biaya hukum akan dialihkan menjadi voucher belanja bagi masyarakat Islandia.

Menurut Walker, keputusan tersebut diambil setelah perusahaan kalah untuk ketiga kalinya di pengadilan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perusahaan tidak perlu mengganti nama merek dagangnya di Inggris.

Putusan Pengadilan dan Dampaknya

Perkara ini bermula ketika pemerintah Islandia menggugat kepemilikan eksklusif merek “Iceland” oleh perusahaan Inggris tersebut. Pemerintah menilai penggunaan tunggal nama itu menghambat pelaku usaha Islandia memasarkan produk mereka di Eropa.

Pada Juli tahun lalu, Pengadilan Umum Uni Eropa membatalkan pendaftaran merek “Iceland” milik perusahaan ritel tersebut. Pengadilan menegaskan bahwa nama geografis tidak dapat dimonopoli karena harus tetap tersedia untuk kepentingan publik.

Meski menerima kekalahan, Walker mengaku khawatir pihak lain kini dapat membuka toko dengan nama serupa dan menjual produk khas Islandia. Namun, perusahaan memastikan bahwa seluruh proses hukum resmi telah dihentikan.

Profil dan Ekspansi Bisnis Iceland

Perusahaan yang bermarkas di Deeside, Wales, ini berdiri sejak 1970. Awalnya hanya satu toko makanan beku di Oswestry, Shropshire. Kini, Iceland mengoperasikan lebih dari 900 gerai di Inggris dengan merek Iceland dan The Food Warehouse.

Kepemimpinan perusahaan beralih kepada Richard Walker pada 2023, menggantikan ayahnya, Malcolm Walker, salah satu pendiri perusahaan. Malcolm sebelumnya memimpin ekspansi besar, termasuk pencatatan saham di Bursa London sebelum akhirnya kembali ke kepemilikan keluarga pada 2012 melalui aksi buyout senilai £1,45 miliar.

Saat ini, kepemilikan perusahaan berada di tangan keluarga Walker dan CEO Tarsem Dhaliwal. Selain pasar domestik, Iceland memiliki gerai waralaba di Kepulauan Channel, Spanyol, dan Portugal.

Pada 2024, perusahaan menjalin kemitraan dengan perusahaan investasi Islandia, SKEL, untuk memperluas distribusi produk di Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia melalui usaha patungan ICE JV EHF.

Bulan lalu, Iceland juga membuka gerai konsesi di jaringan ritel Islandia, Nettó, termasuk satu supermarket di Reykjavik.

Keputusan mengakhiri perseteruan hukum Iceland ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperbaiki hubungan bisnis dan citra perusahaan di kawasan Nordik. Dengan mengalihkan fokus dari litigasi ke kolaborasi, perusahaan berharap dapat memperkuat ekspansi regionalnya.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *