Ketidakpastian tarif global yang muncul sejak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat diberlakukan belum memberikan tekanan berarti terhadap kualitas kredit perbankan nasional, khususnya di segmen trade finance. Meski pelaku usaha ekspor-impor menghadapi tantangan baru, kemampuan bayar kredit dinilai masih relatif terjaga.
Hampir sembilan bulan setelah kebijakan tersebut diumumkan Presiden AS Donald Trump, berbagai negara masih berupaya melakukan negosiasi agar memperoleh tarif yang lebih rendah, termasuk Indonesia. Di sisi lain, dinamika ini ikut memengaruhi pola pembayaran dalam transaksi perdagangan internasional.
Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, Delia Melissa, mengungkapkan bahwa eksportir, terutama yang mengirimkan produk ke AS, kini menerima pembayaran dalam waktu lebih panjang. Tambahan biaya serta proses perhitungan yang lebih kompleks membuat arus kas melambat.
Kondisi tersebut berdampak pada siklus modal kerja pelaku usaha yang semakin panjang. Akibatnya, muncul permintaan perpanjangan fasilitas pembiayaan dari nasabah. Meski begitu, Delia menegaskan bahwa situasi ini belum membebani kinerja bisnis trade finance HSBC Indonesia.
“Sejauh ini kami melihat nasabah masih cukup prudent. Selain itu, pembiayaan kami juga banyak menyasar sektor impor, sehingga tren pembiayaan relatif tidak banyak berubah sejak tarif berlaku,” ujar Delia.
Kualitas Kredit Tetap Solid
Pandangan serupa disampaikan Head of Global Transaction Services Bank DBS Indonesia, Dandy Pandi. Hingga November 2025, rata-rata nilai aset trade finance DBS Indonesia tercatat di atas Rp 9 triliun. Meski tidak dirinci lebih lanjut, capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan yang stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Dandy, kinerja tersebut menegaskan peran strategis Bank DBS Indonesia dalam mendukung aktivitas perdagangan lintas sektor. Bank juga terus memperkuat posisinya sebagai mitra utama pembiayaan perdagangan yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Dandy menambahkan, ketidakpastian tarif global sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap kualitas kredit trade finance. Hal itu sejalan dengan fokus bank pada sektor-sektor strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap rantai pasok domestik serta ekspor-impor nasional.
Ke depan, DBS optimistis prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi katalis positif bagi bisnis trade finance. Peningkatan aktivitas perdagangan, pemulihan rantai pasok, serta naiknya permintaan dari sektor komoditas strategis dinilai akan menjadi pendorong utama.
Optimisme juga datang dari Bank Danamon Indonesia. Direktur Enterprise Banking & Financial Institution Danamon, Thomas Sudarma, mengakui ketidakpastian tarif membawa dampak tersendiri bagi perekonomian. Namun, ia menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup tangguh.
Per 30 September 2025, Danamon mencatat total kredit konsolidasian, termasuk trade finance, sebesar Rp 196,2 triliun atau tumbuh 5% secara tahunan. Dari sisi kualitas aset, rasio NPL bruto berada di level 1,8%, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara rasio pencadangan kredit bermasalah meningkat menjadi 274,9%.
Danamon tetap memandang bisnis trade finance prospektif, terutama dengan dukungan digitalisasi melalui Danamon Cash Connect dan Danamon Trade Connect.
Digitalisasi Jadi Kunci Pertumbuhan
Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyampaikan bahwa layanan trade finance BCA terus dimanfaatkan nasabah untuk mendukung aktivitas perdagangan, baik internasional maupun domestik.
BCA menyediakan berbagai produk seperti Letter of Credit, Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN), documentary collection, serta bank guarantee. Seluruh layanan tersebut telah terintegrasi secara digital melalui aplikasi Client Trade.
“Integrasi digital ini memudahkan nasabah bertransaksi dengan lebih aman dan efisien,” kata Hera.
BCA menargetkan pertumbuhan bisnis trade finance yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2025. Target tersebut tetap diiringi penerapan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko sesuai karakteristik masing-masing sektor.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






