Campina Bidik Kota Sekunder dan Perkuat Distribusi untuk Dongkrak Kinerja 2026

strategi bisnis Campina
Sumber Foto : Canva

PT Campina Ice Cream Tbk (CAMP) menyiapkan strategi bisnis baru untuk menghadapi 2026. Perseroan akan memperluas jangkauan pasar ke kota-kota sekunder sekaligus memperkuat sistem distribusi guna menjaga pertumbuhan penjualan di tengah tantangan daya beli.

Presiden Direktur Campina, Samudera Prawirawidjaja, mengatakan ekspansi akan difokuskan ke wilayah yang selama ini belum terjangkau produk Campina. Sementara itu, distribusi di area yang sudah ada akan terus dioptimalkan agar lebih efisien.

“Dengan memanfaatkan fasilitas distribusi yang sudah berjalan, peningkatan penjualan bisa dilakukan tanpa menambah beban biaya tetap secara signifikan,” ujar Samudera dalam paparan publik, Senin (15/12/2025).

Dorong Kanal Modern dan Perkuat Cold Chain

Sekretaris Perusahaan Campina, Sagita Melati, menuturkan bahwa penguatan jaringan distribusi nasional menjadi salah satu prioritas utama perseroan. Campina juga mendorong ekspansi ke kanal penjualan modern, seperti e-commerce, omnichannel, serta pemasaran melalui media sosial.

Selain itu, penempatan freezer di lokasi strategis terus diperluas untuk mendukung ketersediaan produk. Dari sisi logistik, Campina mengoptimalkan kapasitas armada, rute distribusi, dan biaya pengiriman.

“Integrasi antara distributor dan manajemen persediaan membantu menekan tingkat pengembalian produk serta menjaga efisiensi biaya,” kata Sagita.

Perseroan juga terus membangun infrastruktur cold chain yang dinilai memiliki keunggulan kompetitif dan tidak mudah ditiru oleh pemain baru.

Laba Turun, Penjualan Tetap Tumbuh

Hingga kuartal III-2025, Campina membukukan laba bersih sebesar Rp 46,98 miliar, turun 20,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, penjualan tercatat Rp 860,98 miliar atau tumbuh 1,14% secara tahunan.

Sagita menjelaskan, penurunan laba bersih terjadi karena perseroan menahan kenaikan harga jual secara agresif demi menjaga volume penjualan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi, Campina menjalankan berbagai program efisiensi, mulai dari pengendalian biaya operasional, optimalisasi distribusi, hingga penyesuaian portofolio produk. Hingga September 2025, realisasi belanja modal Campina mencapai Rp 72,73 miliar, yang sebagian besar dialokasikan untuk peningkatan kapasitas produksi dan cold chain.

Dalam hal strategi harga, Campina akan melakukan penyesuaian secara selektif melalui program promosi dan paket ekonomis di wilayah tertentu. Penjualan produk premium tetap dijaga untuk menopang kinerja margin.

Optimistis Hadapi Produk Impor

Menanggapi maraknya produk es krim impor, khususnya dari China, manajemen menilai perbedaan kualitas masih menjadi faktor penentu. Samudera menyebut konsumen tetap akan mencari produk dengan kualitas yang terjaga.

Didukung produk legendaris seperti Hula-hula serta lini family pack yang mencatat pertumbuhan positif, Campina optimistis dapat mempertahankan daya saing pada 2026. Perseroan juga berharap kondisi ekonomi nasional tahun depan dapat lebih baik dibandingkan 2025.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *