Pelaku industri pangan Inggris, baik skala besar maupun kecil, menyambut positif kesepakatan Inggris-Uni Eropa terbaru yang bertujuan mengurangi hambatan perbatasan. Langkah ini dinilai akan memangkas biaya, mempercepat proses distribusi, dan memperkuat kerja sama dagang antarwilayah.
Dalam kesepakatan yang diumumkan awal pekan ini, kedua belah pihak sepakat untuk menyederhanakan dokumen dan pemeriksaan perbatasan untuk produk tumbuhan dan hewan. Meskipun tetap mempertahankan standar keamanan pangan yang tinggi, kesepakatan ini menjadi bagian dari pendekatan baru yang lebih terbuka antara Inggris dan Uni Eropa pasca-Brexit.
Dampak Kesepakatan bagi Pelaku Usaha dan Rantai Pasok
Andreas Georghiou, pemilik toko bahan makanan impor di London yang selama ini mengandalkan produk dari Prancis, Italia, Spanyol, dan Yunani, mengungkapkan betapa beratnya masa-masa setelah Brexit. “Ini benar-benar menyakitkan. Tapi sekarang, rasanya seperti ingin menangis lega,” ucapnya.
Ia menambahkan, kesepakatan ini sangat berarti terutama bagi pelaku usaha kecil. Beban kenaikan pajak baru dari pemerintahan saat ini menjadi lebih bisa ditoleransi dengan adanya kemudahan baru ini. Ia juga optimis bahwa produsen makanan dari Eropa yang sempat menghentikan ekspor ke Inggris, akan mulai kembali menjalin kerja sama dagang.
Hal senada disampaikan Yvonne Yeoh, direktur penjualan Neal’s Yard Dairy, produsen dan eksportir keju artisanal asal Inggris. Ia berharap pengurangan birokrasi akan mempercepat pengiriman dan menekan ongkos logistik. “Sejak Brexit, biaya tenaga kerja meningkat dua kali lipat dan biaya transportasi melonjak tiga kali lipat. Proses pengiriman pun memakan waktu tiga kali lebih lama,” katanya.
Kesepakatan ini juga disambut baik oleh ritel besar seperti Marks & Spencer. Kepala divisi makanan M&S, Alex Freudmann, menyebut penghapusan birokrasi yang tidak perlu ini sebagai langkah yang tepat. CEO British Retail Consortium, Helen Dickinson, menambahkan bahwa kepastian dalam rantai pasok menjadi kunci penting bagi kelangsungan industri ritel.
Kontroversi Hak Penangkapan Ikan dalam Kesepakatan
Namun, terdapat kompromi dari pihak Inggris dalam hal hak penangkapan ikan. Dalam poin ini, disepakati bahwa kapal-kapal Inggris dan Uni Eropa dapat saling mengakses perairan masing-masing selama 12 tahun ke depan. Hal ini menuai kritik tajam dari sektor perikanan Inggris, yang merasa dikorbankan demi kepentingan perdagangan lainnya.
Elspeth Macdonald, CEO Scottish Fishermen’s Federation, menyebut keputusan tersebut sebagai “pengkhianatan” dan menggambarkannya sebagai “pertunjukan horor”. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki sektor perikanan Inggris kembali disisihkan dalam perundingan.
Sebelumnya, sejak Inggris resmi keluar dari pasar tunggal Uni Eropa pada 2021, proses ekspor-impor menjadi rumit akibat penerapan ketat aturan perbatasan oleh Uni Eropa. Hal ini menyebabkan keterlambatan di pelabuhan dan membuat banyak eksportir Inggris menghentikan pengiriman produk ke Eropa.
Data dari Food and Drink Federation menunjukkan bahwa ekspor makanan dan minuman Inggris ke Eropa telah turun sepertiga dibandingkan tahun 2019. Inggris sendiri baru mulai menerapkan aturan perbatasan pasca-Brexit secara bertahap sejak Januari tahun lalu, setelah serangkaian penundaan dan kebingungan administratif.
Dengan kesepakatan terbaru ini, para pelaku usaha berharap akan tercipta stabilitas baru dalam rantai pasok dan perdagangan lintas batas yang lebih lancar di masa depan.
Baca artikel lainnya seputar bisnis dan kebijakan perdagangan di era digital di sini: roledu.com/artikel
Sumber : reuters.com






