Ekonomi Jepang menyusut 0,2% pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi pertama dalam setahun terakhir. Data awal pemerintah yang dirilis Jumat (16/5/2025) menunjukkan penurunan ini lebih besar dibandingkan prediksi ekonom yang memperkirakan kontraksi 0,1%.
Penurunan ekspor menjadi penyebab utama perlambatan ini. Ekspor turun 0,6% secara kuartalan dan mengurangi 0,8 poin persentase dari total PDB. Ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump terus membebani ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada ekspor.
Negosiasi Perdagangan dan Dampaknya pada Ekonomi Jepang
Meski terjadi kontraksi kuartalan, PDB Jepang tumbuh 1,7% secara tahunan. Angka ini merupakan ekspansi terbesar sejak kuartal pertama 2023 dan lebih baik dibandingkan pertumbuhan 1,3% pada kuartal terakhir tahun 2023.
Negosiasi perdagangan dengan AS masih berlangsung tanpa kesepakatan final. Negosiator utama Jepang, Ryosei Akazawa, menyatakan tarif AS belum berdampak signifikan pada PDB kuartal I-2025. Namun, ia memperingatkan risiko pelemahan ekonomi jika kebijakan tersebut berlanjut. Pemerintah Jepang siap mengambil langkah untuk melindungi perusahaan terdampak.
Peningkatan lapangan kerja dan kenaikan upah diperkirakan mendukung pemulihan ekonomi secara moderat. Namun, sentimen konsumen dan konsumsi tetap rentan karena kenaikan harga yang terus berlanjut.
Krishna Bhimavarapu, ekonom Asia Pasifik di State Street Global Advisors, menyebutkan angka pertumbuhan PDB di bawah perkiraannya. Meski begitu, ia melihat sisi positif dari pertumbuhan permintaan domestik sebesar 0,6%. Bhimavarapu memperkirakan kesepakatan perdagangan wajar dengan AS dapat tercapai dalam beberapa bulan, sehingga mengurangi dampak tarif.
Sikap Bank of Japan dan Prospek Inflasi
Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan di 0,5% pada pertemuan Mei 2025 untuk kedua kalinya berturut-turut. BoJ memperingatkan perlambatan ekonomi yang berpotensi terjadi akibat ketidakpastian investasi bisnis, penurunan ekspor ke AS, dan konsumsi rumah tangga yang melemah.
BoJ menyatakan tarif AS memberi tekanan negatif pada aktivitas ekonomi dan harga di Jepang. Meskipun demikian, beberapa anggota dewan BoJ optimistis target inflasi 2% dapat tercapai. Inflasi Jepang telah melampaui target ini selama tiga tahun berturut-turut, terakhir mencapai 3,6% pada April 2025.
Namun, anggota dewan lainnya mengingatkan bahwa prospek ekonomi masih tidak pasti. Bank sentral akan terus menyesuaikan kebijakan moneter sesuai kondisi yang berkembang.
Baca Artikel Lainnya
Simak berbagai artikel menarik lainnya tentang ekonomi dan bisnis terbaru di sini: roledu.com/artikel
Sumber : investor.id






