Perkembangan AI untuk serangan siber kini menjadi perhatian serius dunia keamanan digital. Teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan peretas untuk mempercepat dan menyederhanakan berbagai tahapan serangan. Salah satu contohnya adalah kelompok peretas asal Korea Utara bernama Coral Sleet yang telah memakai agen AI peretas dalam operasinya.
Menurut Kepala Intelijen Ancaman di Microsoft, Sherrod DeGrippo, para pelaku kejahatan siber memanfaatkan AI untuk menangani pekerjaan teknis yang berulang dan memakan waktu. Dengan bantuan otomatisasi, mereka dapat bergerak lebih cepat dan meningkatkan efisiensi serangan.
Dalam proses peretasan, ada banyak tahapan kecil yang harus dilakukan. Aktivitas itu meliputi pengintaian sistem target, pemindaian jaringan organisasi, pencarian celah keamanan, hingga pembangunan server pendukung. Jika dikerjakan manual, proses tersebut membutuhkan waktu panjang dan tenaga besar.
Kini, melalui AI untuk serangan siber, pelaku cukup memberi instruksi. Sistem cerdas akan melakukan pemindaian terhadap banyak target secara otomatis dan bersamaan.
“Pengintaian otomatis berbasis agen terhadap sistem adalah sesuatu yang patut diperhatikan,” ujar DeGrippo, dikutip dari The Register, Selasa (10/3/2026).
Tim Microsoft Threat Intelligence menemukan bahwa Coral Sleet telah mengintegrasikan teknologi ini dalam operasinya. Kelompok tersebut dikenal kerap melakukan penipuan dengan menyamar sebagai tenaga profesional di bidang teknologi informasi.
Agen AI Peretas Percepat Operasi
Pemanfaatan agen AI peretas memungkinkan pelaku membangun serta mengelola infrastruktur serangan secara otomatis. AI juga digunakan untuk menyiapkan kampanye peretasan dan mengendalikan sistem yang sudah berhasil diretas.
Dukungan teknologi ini membuat skala operasi meningkat signifikan. Proses yang sebelumnya rumit kini dapat dijalankan lebih cepat.
“Hal ini menarik karena pelaku dapat berinteraksi dengan infrastruktur berbahaya menggunakan bahasa alami,” jelas DeGrippo. “Mereka cukup menyampaikan ide, lalu sistem akan mengeksekusinya.”
AI Bantu Buat Malware, Tapi Belum Sempurna
Selain infrastruktur serangan, AI juga dimanfaatkan dalam pembuatan perangkat lunak berbahaya atau malware. Meski begitu, peneliti menilai kualitas kode buatan AI masih belum menyamai hasil buatan manusia.
Beberapa pola khas bahkan membuat peneliti dapat mengenali bahwa malware tersebut dibuat oleh mesin. Walau demikian, AI untuk serangan siber tetap mempercepat proses pengembangan kode berbahaya.
DeGrippo menegaskan bahwa pelaku kejahatan akan selalu memilih metode paling mudah. Asisten berbasis AI menjadi alat yang praktis untuk mempercepat pekerjaan teknis mereka.
“Siapa pun yang mengembangkan kode kini mempertimbangkan penggunaan asisten AI,” ujarnya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






