Aksi mogok yang dilakukan oleh pengatur lalu lintas udara di Prancis pada Kamis dan Jumat berdampak pada puluhan ribu penumpang di berbagai negara. Akibat aksi ini, banyak penerbangan dibatalkan, tidak hanya di wilayah Prancis, tetapi juga pada jalur udara Eropa lainnya.
Maskapai berbiaya rendah Ryanair mengonfirmasi bahwa lebih dari 170 penerbangannya dibatalkan. Akibatnya, sekitar 30.000 penumpang mengalami gangguan dalam rencana liburannya. Mogok lalu lintas udara ini dipicu oleh tuntutan dua serikat pekerja di Prancis terkait kondisi kerja yang dianggap memburuk.
Dampak Besar di Bandara Utama dan Jalur Udara Internasional
Otoritas penerbangan sipil Prancis (DGAC) menginstruksikan agar sejumlah maskapai mengurangi jadwal penerbangan mereka di beberapa bandara utama. Di Paris, sekitar 25% penerbangan dibatalkan, sementara Bandara Nice mengalami pembatalan hingga 50% penerbangan. Dampak lebih parah diperkirakan terjadi pada Jumat, dengan 40% pengurangan penerbangan di Bandara Charles de Gaulle, Orly, dan Beauvais.
Tidak hanya penerbangan menuju dan dari Prancis yang terganggu, pesawat yang melintasi wilayah udara Prancis menuju negara seperti Inggris, Irlandia, Spanyol, dan Yunani juga terkena imbasnya.
Reaksi Maskapai dan Pemerintah
CEO Ryanair, Michael O’Leary, menyebut aksi mogok ini sebagai bentuk “penyanderaan terhadap keluarga Eropa yang hendak berlibur”. Ia menyerukan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk segera bertindak dan menjamin layanan minimum selama terjadi mogok, termasuk perlindungan atas penerbangan yang hanya melewati wilayah udara Prancis.
Sementara itu, Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot mengkritik aksi ini sebagai keputusan yang tidak dapat diterima, terutama saat musim liburan dimulai. Ia juga menolak tuntutan serikat yang dinilai tidak realistis.
Penyebab Aksi Mogok dan Respons Industri
Pemogokan ini diprakarsai oleh serikat pekerja UNSA-ICNA yang menyoroti persoalan seperti kekurangan tenaga kerja, masalah manajemen, serta rencana pengenalan sistem absensi digital yang dinilai kontroversial. Negosiasi antara pihak serikat dan DGAC awal pekan ini tidak mencapai kesepakatan.
Organisasi maskapai Eropa, Airlines for Europe (A4E), menyebut mogok ini sebagai tindakan yang “tak bisa ditoleransi”, mengingat dampaknya yang besar pada musim perjalanan puncak. EasyJet, maskapai lain yang juga terdampak, menyampaikan kekecewaan dan berharap ada penyelesaian segera.
Ryanair mencatat bahwa meskipun sempat membatalkan lebih dari 800 penerbangan bulan lalu akibat konflik di Timur Tengah, mereka masih berhasil mengoperasikan lebih dari 109.000 penerbangan selama bulan Juni. Ini menunjukkan bahwa kurang dari 1% total penerbangan mereka terdampak secara keseluruhan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bbcnews.com






