Bank of England (BoE) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga hingga setidaknya akhir 2026, meski tekanan inflasi di Inggris belum sepenuhnya mereda. Hal ini berdasarkan survei Reuters yang melibatkan sejumlah ekonom, yang melihat bank sentral masih akan bersikap hati-hati dalam beberapa tahun ke depan.
Mayoritas responden dalam survei tersebut memperkirakan suku bunga acuan BoE akan bertahan di level sekitar 3,75 persen sepanjang periode tersebut. Keputusan ini dinilai mencerminkan pendekatan “wait-and-see” di tengah kondisi ekonomi yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian.
Tekanan inflasi di Inggris diperkirakan masih menjadi tantangan utama bagi kebijakan moneter. Kenaikan harga energi serta biaya hidup yang tinggi membuat laju inflasi tetap berada di atas target bank sentral.
Dalam situasi ini, para ekonom menilai BoE cenderung memilih untuk tidak terburu-buru melakukan perubahan kebijakan suku bunga. Langkah tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Sikap hati-hati BoE juga dipengaruhi oleh risiko perlambatan ekonomi yang masih menghantui Inggris. Kondisi tersebut membuat ruang untuk pengetatan maupun pelonggaran kebijakan menjadi terbatas.
Sejumlah analis bahkan menyoroti kemungkinan risiko stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melambat. Situasi ini membuat bank sentral cenderung memilih bertahan pada kebijakan yang ada hingga ada kejelasan arah ekonomi.
Dengan hasil survei Reuters ini, ekspektasi pasar semakin menguat bahwa suku bunga Inggris akan tetap stabil dalam jangka waktu yang panjang, kecuali terjadi perubahan signifikan pada kondisi ekonomi global.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






