Oracle Genjot Investasi AI, Pelanggan Waspadai Kenaikan Biaya dan Penurunan Layanan

AI Oracle
Sumber Foto : Canva

Oracle mempercepat ekspansi investasi AI Oracle dengan membangun infrastruktur pusat data berskala besar untuk mendukung kebutuhan mitra strategis seperti OpenAI, xAI, Meta, Nvidia, hingga AMD. Salah satu kerja sama besar bahkan disebut bernilai sekitar US$300 miliar atau setara Rp5,1 kuadriliun dalam lima tahun.

Langkah agresif ini mendorong Oracle memperluas kapasitas layanan Oracle Cloud, terutama Oracle Cloud Infrastructure (OCI). Namun, di tengah ekspansi tersebut, sejumlah pelanggan mulai melaporkan adanya peningkatan biaya dan perubahan kualitas dukungan teknis.

Tekanan Biaya dan Layanan yang Meningkat

Sejumlah pelanggan menyebut respons dukungan teknis Oracle kini melambat. Bahkan, sebagian tanggapan layanan dilaporkan menggunakan bantuan kecerdasan buatan, sehingga dianggap kurang memadai untuk kebutuhan teknis kompleks.

Di sisi lain, proses perpanjangan kontrak juga dilaporkan semakin mahal. Diskon yang sebelumnya diberikan mulai dikurangi atau dihapus, sehingga biaya layanan Oracle Cloud meningkat signifikan saat kontrak diperbarui. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa investasi AI Oracle turut berdampak pada struktur harga layanan perusahaan.

Strategi Lisensi Java yang Kontroversial

Tekanan biaya juga muncul dari kebijakan lisensi Java. Oracle kembali mengintensifkan audit lisensi dan mengubah skema berlangganan dari berbasis pengguna atau perangkat menjadi berbasis jumlah karyawan.

Perubahan ini dinilai dapat meningkatkan biaya penggunaan secara drastis, bahkan disebut mencapai 2–5 kali lipat untuk kebutuhan yang sama. Selain itu, pelanggan juga menghadapi pendekatan penjualan yang lebih agresif, memperketat hubungan bisnis dengan Oracle di berbagai sektor, termasuk pengguna layanan Oracle Cloud.

Pendanaan Besar dan Kekhawatiran Jangka Panjang

Untuk mendukung ekspansi tersebut, Oracle menghimpun pendanaan besar, termasuk penerbitan obligasi senilai US$18 miliar atau sekitar Rp306 triliun. Langkah ini dilakukan untuk menopang pembangunan infrastruktur AI berskala besar.

Namun, strategi pendanaan berbasis utang memunculkan kekhawatiran terkait arus kas dan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Di sisi lain, margin keuntungan dari bisnis perangkat lunak Oracle disebut jauh lebih tinggi dibandingkan bisnis pusat data, sehingga muncul pertanyaan mengenai arah fokus perusahaan ke depan.

Dengan perubahan besar ini, pelanggan kini menyoroti apakah dorongan investasi AI Oracle akan tetap sejalan dengan peningkatan kualitas layanan Oracle Cloud, atau justru sebaliknya dalam jangka panjang.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *