Lonjakan Trafik AI Dorong Operator Beralih ke Infrastruktur 5G

Trafik AI
Sumber Foto : Canva

Ledakan trafik AI di Indonesia mendorong operator seluler mempercepat pengembangan infrastruktur 5G guna menjaga efisiensi biaya dan kapasitas jaringan. Ericsson Indonesia menilai, peralihan ke 5G kini bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya konsumsi data berbasis kecerdasan buatan.

Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, mengatakan karakteristik penggunaan AI—terutama yang membutuhkan latensi rendah, kecepatan tinggi, dan kemampuan unggah yang besar—tidak lagi dapat ditopang optimal oleh jaringan 4G. Menurutnya, teknologi 5G menawarkan keunggulan melalui kombinasi kecepatan tinggi, latensi rendah, serta konektivitas yang lebih adaptif terhadap kebutuhan layanan.

Data Ericsson ConsumerLab 2026 menunjukkan tren penggunaan AI di Indonesia akan terus meningkat, terutama untuk AI multimodal yang menggabungkan teks, suara, dan visual. Porsinya diperkirakan naik dari 21% pada 2025 menjadi 41% pada 2030. Selain itu, sekitar 46% aktivitas AI diproyeksikan berlangsung di luar rumah, menandakan peran jaringan seluler akan semakin dominan dibanding Wi-Fi.

Efisiensi Jadi Alasan Utama

Ronni menekankan bahwa membangun infrastruktur 5G bukan semata soal teknologi baru, tetapi juga strategi efisiensi jangka panjang. Jika operator tetap mengandalkan 4G untuk mengimbangi lonjakan trafik AI, biaya investasi justru berpotensi membengkak lebih besar.

Hal ini berkaitan dengan efisiensi spektrum, di mana 5G mampu mengirimkan data lebih banyak dalam frekuensi yang sama. Secara sederhana, kapasitas pengiriman data 5G bisa 10% hingga 20% lebih tinggi dibandingkan 4G. Dampaknya, biaya per gigabyte (cost per GB) menjadi lebih rendah.

Sebagai ilustrasi, jika trafik data meningkat hingga empat kali lipat, operator yang masih mengandalkan 4G harus menambah jumlah BTS secara signifikan. Dari semula 100 unit, kebutuhan bisa melonjak menjadi 400 unit. Kondisi ini dinilai tidak efisien jika dibandingkan dengan pemanfaatan teknologi 5G yang lebih optimal.

Spektrum Jadi Kunci

Meski demikian, efisiensi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan spektrum baru. Frekuensi seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz disebut krusial untuk mendukung performa 5G secara maksimal. Pada pita 3,5 GHz, tersedia total 300 MHz yang dapat dibagi ke beberapa operator, sehingga masing-masing memiliki kapasitas spektrum lebih besar dibanding saat ini.

Ronni juga menambahkan bahwa implementasi 5G tidak selalu membutuhkan pembangunan dari nol. Operator masih dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, seperti lokasi site dan sumber daya listrik, dengan fokus pembaruan pada perangkat radio.

Tanpa tambahan spektrum, operator diperkirakan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan trafik. Oleh karena itu, percepatan alokasi frekuensi dinilai menjadi langkah penting untuk menekan biaya sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem digital berbasis AI.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *