Perlombaan menuju komersialisasi 6G kian terbuka. Meski standar teknis global belum rampung, sejumlah raksasa teknologi sudah menyiapkan strategi untuk memimpin era jaringan generasi berikutnya. Salah satunya adalah Qualcomm yang menargetkan peluncuran awal 6G pada 2029.
Di sisi lain, pengembangan jaringan berbasis AI menjadi fondasi utama dalam visi 6G. Baik Qualcomm maupun Nvidia menilai teknologi kecerdasan buatan akan menjadi otak dari sistem komunikasi masa depan.
Standar 6G Belum Final, Industri Sudah Bergerak
Hingga kini, spesifikasi resmi 6G masih dalam tahap perumusan. Dua lembaga global, yaitu International Telecommunication Union dan 3rd Generation Partnership Project, tengah menyusun kerangka teknisnya.
ITU sebelumnya telah merilis panduan IMT-2030 pada 2023. Namun, detail teknis untuk implementasi komersial belum disepakati secara final. Artinya, industri sedang membangun konsep dan prototipe untuk teknologi yang definisinya masih berkembang.
Meski begitu, Qualcomm tetap optimistis. Perusahaan asal Amerika Serikat itu menargetkan validasi sistem awal pada 2028. Setelah itu, uji coba pra-komersial akan dilakukan sebelum memasuki tahap komersialisasi 6G pada 2029 secara global.
Koalisi Industri dan Visi Jaringan Berbasis AI
Tak hanya Qualcomm, Nvidia juga bergerak cepat. Perusahaan tersebut menggandeng berbagai mitra untuk mengembangkan jaringan berbasis AI yang lebih adaptif dan fleksibel.
Konsep yang diusung bukan sekadar peningkatan kecepatan. 6G dirancang sebagai sistem yang mampu mengelola lalu lintas data secara otomatis. Jaringan masa depan ini juga dapat diperbarui melalui perangkat lunak tanpa harus sering mengganti perangkat keras.
Qualcomm membentuk koalisi tersendiri. Fokusnya pada tiga pilar utama, yakni konektivitas, penginderaan area luas, dan komputasi berkinerja tinggi. Penginderaan area luas memungkinkan jaringan “merasakan” kondisi lingkungan sekitar secara real time.
Menariknya, sejumlah operator dan vendor besar bergabung di kedua kubu. Beberapa di antaranya adalah BT, Cisco, Deutsche Telekom, T-Mobile, Nokia, SK Telecom, dan Ericsson.
Kolaborasi lintas perusahaan ini menunjukkan bahwa pengembangan jaringan berbasis AI menjadi prioritas industri global.
Efisiensi Energi Jadi Sorotan
Selain latensi sangat rendah dan kecepatan tinggi, 6G juga diklaim lebih hemat energi. Sejumlah riset memperkirakan efisiensi energi per bit bisa 10 hingga 100 kali lebih baik dibanding 5G.
Beberapa peta jalan industri bahkan menargetkan pemangkasan konsumsi energi jaringan hingga sekitar 50 persen dari baseline 5G. Peningkatan kapasitas tetap menjadi prioritas tanpa mengorbankan efisiensi.
Namun demikian, tanpa standar resmi, istilah komersialisasi 6G masih sebatas visi dan janji teknologi. Klaim produk berlabel 6G belum memiliki legitimasi kuat sebelum kesepakatan global tercapai.
Perjalanan menuju 6G masih panjang. Akan tetapi, arah pengembangannya sudah jelas: jaringan yang lebih cepat, cerdas, dan berkelanjutan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel