Defisit Perdagangan Jerman–China Kian Melebar, Merz Soroti Ketidakseimbangan

Kunjungan resmi Kanselir Jerman, Friedrich Merz, ke Beijing menyoroti isu defisit perdagangan Jerman yang terus melebar. Dalam pertemuannya dengan pemerintah China, Merz menyebut ketimpangan dalam hubungan dagang Jerman China sebagai kondisi yang “tidak sehat” bagi perekonomian kedua negara.

Data statistik federal menunjukkan bahwa nilai impor Jerman dari China pada 2025 mencapai 170,6 miliar euro. Angka ini naik 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor Jerman ke China justru turun 9,7 persen menjadi 81,3 miliar euro. Selisih tersebut memperlebar defisit perdagangan Jerman hingga dua kali lipat dibandingkan nilai ekspornya.

Merz menyatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, kesenjangan ini bahkan meningkat hampir empat kali lipat. Ia menegaskan perlunya langkah konkret untuk menyeimbangkan kembali hubungan dagang Jerman China agar tidak terus merugikan industri dalam negeri.

Dampak bagi Industri Jerman

Ketimpangan perdagangan ini dinilai menggerus fondasi industri Jerman. Sektor otomotif, mesin, dan kimia menjadi yang paling terdampak. Jürgen Matthes dari German Economic Institute (IW) menyebut situasi ini sebagai ancaman serius bagi daya saing nasional.

Menurutnya, keunggulan harga produk China tidak semata berasal dari inovasi dan efisiensi. Ia menilai adanya subsidi besar-besaran dan kebijakan nilai tukar turut memengaruhi kondisi tersebut. Pemerintah China sebelumnya membantah tudingan itu dan menegaskan bahwa kebijakan subsidi mereka sesuai aturan perdagangan internasional.

Fenomena ini disebut sejumlah analis sebagai “China shock” terbaru bagi Uni Eropa. Lembaga pemikir Bruegel di Brussels menilai pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina memperburuk biaya produksi di Eropa. Pada saat yang sama, China mengalami fase deflasi akibat kelebihan kapasitas produksi manufaktur.

Kondisi tersebut membuat pasar Eropa dibanjiri produk murah dari China. Hal ini memperparah defisit perdagangan Jerman serta menekan sektor industri strategis.

Strategi Eropa dan Tantangan Global

Uni Eropa kini menghadapi dilema. Di satu sisi, blok ini tidak ingin terjebak perang dagang dengan dua kekuatan besar dunia, yakni Amerika Serikat dan China. Di sisi lain, langkah proteksi dianggap perlu untuk menjaga keseimbangan pasar.

Komisi Eropa telah meluncurkan sejumlah penyelidikan antidumping terhadap produk China. Selain itu, ada dorongan untuk meningkatkan produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor strategis, termasuk bahan baku penting seperti tanah jarang.

Meski demikian, Jerman cenderung lebih berhati-hati dibandingkan Prancis yang mendorong kebijakan proteksionis. Merz sendiri menegaskan bahwa memutuskan hubungan ekonomi dengan China bukanlah solusi. Ia menilai hubungan dagang Jerman China tetap membuka peluang, meski mengandung risiko.

Dalam kunjungannya, Merz juga mengungkapkan rencana pembelian hingga 120 pesawat Airbus oleh pihak China. Kesepakatan ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan pada defisit perdagangan Jerman, meskipun belum cukup untuk menutup kesenjangan secara keseluruhan.

Selain isu perdagangan, Merz meminta Beijing memanfaatkan pengaruhnya terhadap Moskow untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika ekonomi dan geopolitik kini saling terkait erat.

Di tengah perubahan global, Jerman kini harus mengevaluasi kembali strategi lama “perubahan melalui perdagangan” yang selama ini diterapkan terhadap China dan Rusia. Pendekatan tersebut dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks.

Hubungan ekonomi dengan China tetap penting bagi Jerman. Namun, pemerintah menegaskan akan tetap melindungi kepentingan nasional dan industri strategisnya.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *