Raksasa ayam goreng asal Filipina, Jollibee, berhasil mencatat pertumbuhan signifikan di Singapura, salah satu pasar makanan cepat saji paling kompetitif di dunia. Di tengah persaingan ketat, biaya operasional tinggi, dan tuntutan konsumen, Jollibee berhasil memperkuat posisinya dengan membuka empat gerai baru tahun ini, termasuk di National University of Singapore dan Distrik Punggol Digital. Satu gerai tambahan dijadwalkan beroperasi di Hougang Mall pada Desember mendatang.
Singapura juga dijadikan lokasi uji coba untuk memperbaiki operasional, inovasi menu, serta layanan pelanggan. Strategi dan pengalaman di negeri Singa ini diharapkan menjadi acuan Jollibee dalam mengelola pasar di negara lain.
Jejak Jollibee di Indonesia
Meskipun tidak lagi beroperasi di Indonesia, rasa ayam goreng Jollibee masih diingat penggemarnya. Pertama hadir di Jakarta pada 1991, gerai Jollibee kemudian tutup pada 1997 akibat krisis finansial Asia. Gerai lain di Kelapa Gading dan Medan juga menyusul ditutup pada 2004 dan 2005.
Sejak 2018, Jollibee sempat mengumumkan rencana untuk kembali ke Indonesia, namun hingga kini belum ada realisasi pembukaan gerai baru.
Pendiri dan Ekspansi Global
Jollibee didirikan pada 1975 oleh Tony Tan Caktiong, pengusaha asal Filipina. Awalnya, Tony bersama istrinya, Grace, serta keluarga, memulai usaha menjual es krim di jalanan Manila. Tiga tahun kemudian, mereka beralih ke bisnis makanan panas dan membentuk merek Jollibee.
Hingga kini, Jollibee Group telah berkembang menjadi grup restoran dengan 19 merek, lebih dari 10.000 toko di 33 negara, dan Tony Tan Caktiong memiliki kekayaan pribadi sekitar US$1 miliar. Selain Jollibee, kekayaan Tony juga berasal dari bisnis properti melalui DoubleDragon Corporation bersama mitranya, Edgar Sia II.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.