Setelah enam tahun dijalankan, toko Starbucks pick-up akhirnya dihentikan karena tidak lagi sejalan dengan strategi baru Starbucks yang menekankan koneksi emosional dengan pelanggan. Konsep ini sebelumnya dikembangkan untuk melayani pelanggan yang hanya ingin mengambil pesanan tanpa duduk atau berlama-lama di gerai.
Diperkenalkan pertama kali di New York pada 2019, toko Starbucks pick-up dirancang agar pelanggan memesan lewat aplikasi dan langsung mengambil pesanan di lokasi. Beberapa toko hanya memiliki jendela pengambilan, sementara lainnya menawarkan ruang tunggu kecil tanpa tempat duduk nyaman. Starbucks mengembangkan sekitar 90 lokasi model ini di pusat kota, rumah sakit, dan bandara. Kini, sebagian besar lokasi tersebut akan ditutup atau berpotensi dialihkan menjadi gerai reguler.
Strategi Baru Starbucks: Kembali ke Suasana Coffeehouse
CEO Starbucks, Brian Niccol, menyatakan bahwa format toko khusus pengambilan ini terasa terlalu transaksional dan tidak mencerminkan karakter khas Starbucks sebagai tempat yang hangat dan manusiawi. “Model ini kurang menghadirkan koneksi sosial yang menjadi bagian penting dari pengalaman kami,” ujarnya dalam laporan kinerja keuangan terbaru.
Niccol, yang mulai menjabat sejak September lalu, menjadikan pemulihan suasana coffeehouse sebagai inti dari strategi baru Starbucks. Untuk itu, perusahaan mulai membangun konsep toko yang lebih kecil namun nyaman—dengan sekitar 10 kursi, meja lebih besar, stopkontak, dan suasana yang mendukung interaksi sosial. Gerai seperti ini sedang diuji coba di New York dan diproyeksikan menjadi model masa depan.
“Kami yakin konsep baru ini tidak hanya meningkatkan pengalaman pelanggan, tetapi juga memperbaiki efisiensi bisnis dan memperluas potensi pasar,” kata Niccol.
Penjualan Menurun, Perubahan Dimulai
Meski perubahan arah telah dimulai, Starbucks masih menghadapi tekanan. Penjualan di gerai yang telah beroperasi minimal satu tahun menurun selama enam kuartal berturut-turut. Penurunan terbaru terjadi di kawasan Amerika Utara dengan angka mencapai 2%.
Namun, Niccol menilai bahwa sejumlah indikator sudah mulai membaik. Jumlah pembelian dari pelanggan nonanggota Rewards kembali meningkat, dan nilai transaksi rata-rata naik 1%. Saham Starbucks pun sempat naik hampir 5% di perdagangan pra-pasar, sebagai respons positif terhadap arah strategi baru Starbucks.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : cnn.com
