Startup AI asal Amerika Serikat, Scale AI, melakukan PHK massal terhadap sekitar 200 karyawan atau sekitar 14% dari total tenaga kerja mereka. Tak hanya itu, kerja sama dengan lebih dari 500 kontraktor global juga dihentikan. Langkah ini menjadi bagian dari perubahan fokus bisnis teknologi yang dilakukan perusahaan—beralih dari layanan pelabelan data menuju sektor korporasi dan pemerintahan.
Dalam sebuah memo internal yang diperoleh Bloomberg, CEO interim Scale AI, Jason Droege, menyebutkan bahwa perusahaan telah berkembang terlalu cepat di bidang pelabelan data, yang selama ini menjadi inti bisnis mereka. Namun, strategi tersebut kini dinilai kurang relevan untuk pertumbuhan jangka panjang.
Penyesuaian Strategi Akibat Tekanan Pasar
Langkah restrukturisasi ini terjadi tak lama setelah Meta mengakuisisi CEO sebelumnya dalam kesepakatan senilai USD 14,3 miliar (sekitar Rp233 triliun). Sejumlah pelanggan besar juga disebut telah menghentikan kerja sama, yang semakin memperbesar tekanan pada perusahaan.
PHK massal Scale AI mencerminkan tren global yang sedang melanda industri teknologi. Sejak tahun 2022, ribuan pekerja di bidang teknologi telah mengalami pemutusan hubungan kerja akibat otomatisasi dan efisiensi biaya. Situs layoffs.fyi mencatat lebih dari 264.000 pekerja diberhentikan pada 2023, naik dari 165.000 pada tahun sebelumnya.
Tren PHK Teknologi dan Investasi AI
Hingga pertengahan 2024, lebih dari 132.900 karyawan dari 410 perusahaan telah terdampak PHK. Data dari Trueup.io dan BestBrokers bahkan mencatat lebih dari 700 pengumuman PHK sejak awal tahun, yang memengaruhi sekitar 204.000 pekerja—terutama di AS dan Inggris.
Beberapa raksasa teknologi seperti Dell, Intel, Tesla, Microsoft, dan Google turut melakukan pemangkasan karyawan. Microsoft menyebut bahwa investasi di bidang AI menjadi salah satu alasan utama perubahan struktur organisasi, sementara Google menekankan perlunya percepatan kinerja perusahaan.
Perubahan fokus bisnis teknologi seperti yang dilakukan oleh Scale AI menunjukkan bahwa perusahaan kini perlu lebih selektif dalam menentukan arah pengembangan bisnis. Inovasi harus seimbang dengan efisiensi, terutama di tengah pasar yang semakin kompetitif dan cepat berubah.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bisnis.com






