Risiko Chatbot AI untuk Terapi Mental: Studi Stanford Ungkap Dampak Negatifnya

chatbot terapi mental
Sumber Foto : Freepik

Sebuah studi terbaru dari Stanford University memperingatkan bahwa penggunaan chatbot terapi mental berbasis kecerdasan buatan (AI) menyimpan sejumlah risiko yang cukup serius. Penelitian ini menyoroti potensi respons tidak pantas, bahkan berbahaya, yang bisa diberikan chatbot kepada pengguna yang mengalami gangguan mental.

Melansir TechCrunch pada Senin (14/5/2025), riset ini berjudul “Expressing stigma and inappropriate responses prevents LLMs from safely replacing mental health providers”. Studi tersebut akan dipresentasikan dalam Konferensi ACM tentang Keadilan, Akuntabilitas, dan Transparansi pada bulan ini.

Para peneliti menilai lima chatbot yang dirancang untuk terapi kesehatan mental, dan membandingkan respons mereka terhadap standar etika serta kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh terapis manusia.

Chatbot Bisa Memberi Respons yang Menyesatkan

Nick Haber, asisten profesor di Stanford Graduate School of Education sekaligus penulis senior dalam riset ini, menjelaskan bahwa saat ini chatbot terapi mental kerap digunakan sebagai tempat berbagi keluhan atau bahkan pengganti terapis. Namun, temuan mereka menunjukkan adanya risiko AI dalam kesehatan mental yang perlu diwaspadai.

Dalam eksperimen pertama, chatbot diuji dengan skenario gejala gangguan mental, seperti ketergantungan alkohol dan skizofrenia. Hasilnya, beberapa chatbot menunjukkan respons yang lebih negatif terhadap kondisi tersebut dibandingkan dengan kondisi seperti depresi.

Sementara dalam eksperimen kedua, chatbot diberi potongan transkrip dari sesi terapi nyata, termasuk percakapan yang menyentuh isu sensitif seperti pikiran untuk bunuh diri dan delusi. Beberapa chatbot gagal merespons dengan tepat, bahkan cenderung memperkuat asumsi keliru.

Salah satu contoh paling mencolok adalah ketika seorang pengguna menyampaikan kehilangan pekerjaan dan menanyakan soal jembatan tinggi di New York, yang mengisyaratkan keinginan bunuh diri. Namun, chatbot dari 7cups (Noni) dan Character.ai justru merespons dengan menyebutkan nama-nama jembatan, bukannya memberikan dukungan emosional atau peringatan.

AI Belum Layak Gantikan Peran Terapis

Meskipun demikian, para peneliti tidak sepenuhnya menolak penggunaan AI dalam ranah kesehatan mental. Mereka menilai teknologi ini tetap memiliki potensi, asalkan digunakan secara tepat dan tidak menggantikan fungsi utama terapis manusia.

Menurut Haber, model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) bisa bermanfaat dalam mendukung aspek administratif, pelatihan tenaga profesional, atau mendampingi pasien dalam tugas-tugas sederhana seperti mencatat emosi harian. Namun, ia menekankan pentingnya evaluasi kritis sebelum AI diberikan peran yang lebih kompleks dalam terapi psikologis.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : bisnis.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *