Pemilik Kilang Prax Didesak Bertanggung Jawab Usai Raup Jutaan Dolar Sebelum Bangkrut

Pemilik kilang Prax
Sumber Foto : Freepik

Pasangan suami istri pemilik kilang minyak Prax Lindsey di Inggris diketahui telah mengantongi sedikitnya $15,9 juta (setara Rp259 miliar) dalam bentuk gaji dan dividen sejak mengakuisisi fasilitas tersebut. Temuan ini mencuat di tengah sorotan tajam publik dan pemerintah atas bangkrutnya kilang minyak yang menjadi salah satu dari lima kilang tersisa di Inggris.

Winston Soosaipillai, yang dikenal dengan nama tengahnya, Sanjeev Kumar, bersama sang istri, Arani Soosaipillai—yang menjabat sebagai direktur SDM grup—memiliki kilang tersebut sejak 2021. Mereka menguasai 80% saham langsung dan 20% lainnya melalui trust keluarga. Kini, pemilik kilang Prax itu diminta turun tangan membantu para pekerja yang terdampak.

Ratusan Pekerja Terancam, Pemerintah Minta Pertanggungjawaban

Kilang minyak tersebut dinyatakan pailit pada Senin, mengancam masa depan 625 pekerja dan memicu kekhawatiran akan gangguan suplai ke berbagai klien penting, termasuk bandara Heathrow. Ironisnya, pemerintah mengaku baru saja menerima jaminan dari pihak kilang bahwa kondisi keuangan mereka aman.

Michael Shanks, Menteri Muda di Departemen Energi, dalam pernyataan di parlemen menegaskan bahwa pemilik kilang diharapkan “merogoh kocek sendiri” demi memberikan kompensasi layak bagi pekerja yang terkena dampak.

Berdasarkan data dari Companies House, Sanjeev Kumar tercatat sebagai satu-satunya direktur resmi di kilang maupun perusahaan induknya. Dalam laporan tahunan, disebutkan bahwa sejak 2022 hingga 2024, gaji direktur tertinggi—diduga adalah Kumar—mencapai $8,5 juta. Selain itu, mereka juga menikmati dividen sebesar $7,3 juta sejak pembelian dari Total, perusahaan minyak asal Prancis.

Pembayaran Dividen Tak Sesuai Cadangan, Diubah Jadi Utang

Dokumen keuangan juga mengungkap bahwa pada 2023, perusahaan sempat membagikan dividen sebesar $4,98 juta, namun kemudian menyadari dana tersebut melebihi cadangan kas yang tersedia. Alhasil, pembayaran itu harus diklasifikasikan ulang sebagai utang kepada pihak terkait, dalam hal ini pemegang saham. Dividen tambahan kembali diumumkan setelah tahun berjalan, namun tidak dibayarkan secara tunai, melainkan melalui pelepasan utang yang sebelumnya telah ditransfer.

Sementara itu, kilang Lindsey Oil Refinery Ltd tercatat mengalami kerugian sebesar £109 juta dalam periode yang sama. Walaupun kerugian dalam skala besar kerap terjadi di industri minyak dan gas, sorotan kali ini mengarah pada praktik pengelolaan dan tanggung jawab sosial pemilik perusahaan.

Sharon Graham, Sekjen serikat pekerja Unite, mengecam keras tindakan Sanjeev dan Arani Soosaipillai. Ia menilai pembayaran besar kepada diri sendiri di tengah merosotnya bisnis adalah bentuk kelalaian serius terhadap infrastruktur energi nasional dan hak-hak pekerja.

Kisah kilang Prax Lindsey menjadi peringatan akan pentingnya transparansi dan tanggung jawab etis dalam bisnis strategis. Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *