Gudang Garam Tertekan: Kinerja Melemah, Saham Merosot, dan Ekspansi Infrastruktur

Industri rokok
Sumber Foto : Freepik

Industri rokok Indonesia saat ini berada dalam tekanan berat. Perusahaan besar seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terkena dampaknya. Persaingan semakin ketat dengan pemain rokok menengah dan kecil. Beban cukai yang terus naik setiap tahun juga menambah tekanan. Hal ini berdampak langsung pada kinerja keuangan Gudang Garam yang terus menurun sejak tahun lalu.

Laba bersih GGRM sepanjang 2024 tercatat hanya Rp 980,8 miliar. Angka ini merosot hingga 81,57% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp 5,32 triliun. Penurunan ini mencerminkan tantangan besar yang sedang dihadapi perusahaan.

Saham Merosot, Pembelian Tembakau Dihentikan

Penurunan kinerja turut memengaruhi nilai saham GGRM. Pada tahun 2019, saham Gudang Garam pernah menyentuh hampir Rp 90.000 per lembar. Kini nilainya hanya sekitar Rp 9.000-an. Bahkan sempat jatuh ke Rp 8.675 per lembar pada April 2025.

Tekanan bisnis juga berdampak pada kebijakan operasional. Gudang Garam menghentikan pembelian tembakau dari petani di Kabupaten Temanggung. Alasannya, stok tembakau masih menumpuk di gudang perusahaan.

Diversifikasi Bisnis: Bangun Bandara dan Jalan Tol

Untuk bertahan, GGRM mencoba memperluas bisnis ke sektor infrastruktur. Lewat anak usaha PT Surya Dhoho Investama (SDhI), mereka membangun Bandara Dhoho di Kediri. Proyek ini sepenuhnya dibiayai swasta, tanpa dukungan APBN. Bandara ini memiliki terminal seluas 25.857 meter persegi. Runway-nya sepanjang 3.300 meter, cukup untuk pesawat besar seperti Boeing 777-300ER. Apronnya bisa menampung 12 pesawat sedang dan 3 pesawat lebar. Namun, hingga akhir Juli 2025, belum ada satu pun penerbangan yang beroperasi.

Setelah bandara, Gudang Garam juga membangun jalan tol. Perusahaan mendirikan PT Surya Kerta Agung sebagai anak usaha baru. Pada Januari 2023, GGRM menyuntikkan dana sebesar Rp 7 triliun ke perusahaan tersebut. Dana itu digunakan untuk membangun dan memelihara jaringan jalan. Anak usaha ini didirikan bersama PT Suryaduta Investama.


Kondisi saat ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Gudang Garam dan tekanan dalam industri rokok Indonesia membuat perusahaan harus beradaptasi dengan strategi baru, termasuk ekspansi ke sektor infrastruktur. Apakah langkah ini akan menyelamatkan Gudang Garam dari tekanan industri yang terus meningkat? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : kompas.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *