Pemerintah Thailand memperketat regulasi ganja medis yang kini hanya memperbolehkan penjualan ganja untuk keperluan medis dengan resep dokter. Kebijakan ini mulai berlaku Rabu lalu, sebagai respons terhadap kekacauan pasar ganja yang muncul sejak dekriminalisasi ganja pada 2022.
Sejak itu, industri ganja di Thailand tumbuh pesat, dengan sekitar 11.000 toko ganja resmi beroperasi di seluruh negeri. Di beberapa wilayah Bangkok, toko ganja bermunculan di setiap sudut jalan, lengkap dengan papan neon dan aroma ganja yang menyengat.
Di kawasan wisata Khao San Road, bahkan terdapat pusat perbelanjaan yang menjual berbagai produk ganja dan aksesori konsumsinya. Produk olahan seperti kue dan permen ganja pun ditawarkan secara daring, meskipun hal ini secara hukum tetap dilarang.
Penyelundupan Ganja dari Thailand Jadi Sorotan Global
Kebijakan regulasi ganja medis yang longgar selama ini membuat Thailand menjadi pusat produksi dan konsumsi ganja yang tak terkendali. Negara-negara seperti Inggris melaporkan peningkatan tajam dalam penyelundupan ganja asal Thailand. Data dari National Crime Agency (NCA) Inggris menunjukkan lonjakan signifikan: dari 142 kurir yang membawa 5 ton ganja pada 2023, menjadi 800 kurir dengan total 26 ton pada 2024.
Kasus terbaru melibatkan dua perempuan muda Inggris yang ditangkap di Georgia dan Sri Lanka karena menyelundupkan ganja dari Thailand dalam jumlah besar.
Menurut NCA, banyak anak muda tergiur keuntungan cepat dan menganggap menyelundupkan ganja sebagai risiko rendah. Padahal, jika tertangkap, mereka bisa menghadapi hukuman berat.
Celah Hukum dan Lemahnya Penegakan Aturan
Hingga kini, Thailand belum memiliki kerangka hukum komprehensif untuk mengatur industri ganja. RUU yang seharusnya disahkan sejak 2022 tertunda karena tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi.
Pihak otoritas bea cukai mengakui bahwa pelanggar kerap lolos hanya dengan membayar denda ringan. Banyak koper berisi ganja yang ditinggalkan begitu saja di bandara dan sulit ditindaklanjuti karena lemahnya sanksi hukum.
Beberapa sindikat bahkan menggunakan nama-nama warga Thailand untuk menyamarkan usaha ilegal mereka dalam membudidayakan ganja secara besar-besaran.
Protes Petani Lokal dan Kekhawatiran Pelaku Usaha Kecil
Penerapan aturan baru mendapat tentangan dari pelaku usaha kecil. Mereka khawatir kebijakan ini justru mematikan bisnis lokal yang sudah lebih dulu terdampak akibat overproduksi dan turunnya harga pasar.
Kitty Chopaka, salah satu penggiat legalisasi ganja dan advokat untuk pelaku usaha kecil, menilai bahwa masalah utama bukan kurangnya aturan, melainkan minimnya penegakan hukum.
Sementara itu, petani legal seperti Parinya Sangprasert menyebut bahwa prosedur penjualan ganja dalam jumlah besar telah diatur melalui izin resmi dan pencatatan transaksi. Ia menekankan bahwa pelaku ilegal tidak akan tunduk pada aturan baru jika penegakan hukum tetap lemah.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
