Perusahaan otobus PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) terus menghadapi tekanan dalam menghadapi ketatnya persaingan industri transportasi darat, khususnya di segmen Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Untuk bertahan, LRNA kini mengedepankan strategi efisiensi dan penyesuaian layanan guna meningkatkan performa bisnisnya.
Tahun 2024 menjadi masa yang penuh tantangan bagi LRNA. Kinerja di semua lini usaha berada di bawah target. Segmen AKAP, misalnya, hanya menghasilkan pendapatan sebesar Rp 62,24 miliar, atau baru 77% dari target tahunan sebesar Rp 117,23 miliar.
Sementara itu, pendapatan dari layanan bus jarak pendek hanya mencapai Rp 4,46 miliar—sekitar 6% dari target yang ditetapkan senilai Rp 10,55 miliar. Pada segmen penyewaan bus, realisasi pendapatan sebesar Rp 14,23 miliar atau hanya 18% dari target senilai Rp 26,62 miliar.
Secara keseluruhan, total pendapatan LRNA pada 2024 tercatat sebesar Rp 80,93 miliar, turun 12,94% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, rugi bersih perusahaan membengkak hingga 2.048,79% secara tahunan, menjadi Rp 16,70 miliar.
Persaingan Ketat & Perubahan Perilaku Komuter
Memasuki awal 2025, tekanan masih belum mereda. Pendapatan kuartal I-2025 turun 13,43% year-on-year menjadi Rp 16,50 miliar. Namun demikian, rugi bersih mengalami perbaikan dengan penurunan sebesar 26,27% secara tahunan, menjadi Rp 6,96 miliar.
Direktur LRNA, Rianta Soerbakti, mengakui bahwa persaingan di segmen AKAP semakin sengit. Tidak hanya harus bersaing dengan sesama perusahaan otobus, LRNA juga menghadapi tekanan dari moda transportasi lain seperti pesawat dan kereta api. Apalagi, pemerintah telah mendorong maskapai penerbangan untuk menurunkan harga tiket, sementara layanan kereta kini makin luas dan modern.
Di sisi lain, segmen bus jarak pendek juga terdampak oleh tren kerja jarak jauh seperti work from home (WFH) dan work from anywhere (WFA), terutama di wilayah Jabodetabek. Kondisi ini berdampak pada penurunan jumlah penumpang harian yang biasanya bepergian dari kota penyangga menuju Jakarta.
Fokus pada Reroute dan Rental Bus
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, sejak 2024 LRNA telah menerapkan langkah efisiensi secara masif. Beberapa rute AKAP yang dianggap tidak produktif dipangkas. Perusahaan juga melakukan pengalihan rute (reroute) berdasarkan evaluasi kebutuhan pasar dan tingkat persaingan.
Upaya ini dibarengi dengan penguatan layanan jarak pendek, seperti Transjabodetabek Reguler (TJR), Jabodetabek Residence Connexion (JRC), serta Jabodetabek Airport Connexion (JAC). Segmen ini dinilai menjanjikan seiring dengan perluasan rute Transjakarta oleh Pemprov DKI Jakarta ke kawasan penyangga ibu kota.
Menurut Rianta, dampak dari upaya efisiensi dan optimalisasi rute ini diperkirakan baru akan terlihat secara signifikan sepanjang tahun 2025.
Selain itu, LRNA juga menargetkan pertumbuhan dari layanan penyewaan bus. Perusahaan aktif mengikuti tender untuk penyediaan layanan transportasi korporasi. Segmen ini masih menyimpan potensi besar, mengingat banyak perusahaan memerlukan transportasi massal tanpa harus memiliki armada sendiri.
Dalam menghadapi tekanan pasar dan penurunan pendapatan, LRNA terus mengupayakan efisiensi serta memperkuat segmen potensial untuk menjaga kelangsungan bisnis. Meski tantangan belum berakhir, strategi penyesuaian rute dan ekspansi di sektor rental diharapkan bisa menjadi jalan keluar.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
