Dolar AS Melemah: Investor Global Tarik Diri dari Aset Amerika

Dolar AS Melemah
Sumber Foto : Freepik

Dolar Amerika Serikat terus melemah terhadap hampir semua mata uang utama dunia. Euro, pound sterling, dan franc Swiss menjadi beberapa mata uang yang menguat tajam. Tren ini menjadi sinyal bahwa investor mulai kehilangan kepercayaan pada dolar AS sebagai aset global utama.

Sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS, nilai dolar telah turun lebih dari 10 persen terhadap mata uang utama lainnya. Bloomberg melaporkan bahwa pelemahan ini terjadi akibat kebijakan-kebijakan Trump yang dinilai meresahkan pasar. Kenaikan tarif impor, rencana pemotongan pajak yang berisiko memperbesar defisit, serta tekanan terhadap Federal Reserve, semuanya memperburuk sentimen.

Beberapa analis menilai pemerintah AS tidak terburu-buru menahan penurunan nilai tukar. Sebagian pelaku pasar bahkan percaya bahwa Trump memang membiarkan nilai tukar dolar turun untuk mendukung industri manufaktur. Pernyataan ini didukung peristiwa saat dolar anjlok 4 persen terhadap dolar Taiwan hanya dalam satu jam.

Kondisi Fiskal AS Kian Mengkhawatirkan

Pelemahan dolar menjadi masalah besar karena pembiayaan pemerintah AS kini melampaui USD 4 triliun per tahun. Mayoritas pembiayaan tersebut berasal dari investor asing. Semakin rendah nilai dolar, makin besar potensi kerugian bagi mereka ketika hasil investasi dikonversi ke mata uang lokal.

Stephen Miller, konsultan dari GSFM Australia, menyebut Trump sedang “bermain api.” Ia memperingatkan bahwa penurunan perlahan dolar bisa berubah menjadi krisis besar. Jika dana asing mulai keluar, biaya pinjaman akan melonjak dan tekanan fiskal semakin berat.

Data CFTC mencatat posisi jual bersih terhadap dolar mencapai USD 15,9 miliar pada pertengahan Juni. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar terus meningkat. Survei Bank of America juga mengungkap bahwa kepemilikan dolar oleh manajer dana global saat ini berada di level terendah dalam 20 tahun.

Morgan Stanley memperkirakan dolar bisa turun ke titik terendah sejak pandemi. Sementara Goldman Sachs menilai dolar masih terlalu mahal, hingga 15 persen dari nilai wajarnya.

Obligasi AS Tak Lagi Dipandang Aman

Situasi fiskal AS memperburuk kepercayaan investor. Moody’s telah menurunkan peringkat kredit pemerintah AS pada bulan Mei. Alasan utamanya adalah lonjakan defisit yang sudah melebihi 6 persen dari PDB. RUU pajak versi Trump yang sedang dibahas diprediksi akan menambah defisit hingga USD 3 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.

Kepercayaan terhadap obligasi pemerintah juga mulai terkikis. Biasanya, saat imbal hasil naik, dolar ikut menguat. Namun kini, pola tersebut terbalik. Investor mulai menganggap obligasi AS tidak lagi sepenuhnya aman.

“Jika investor global mulai mengalihkan aset dari dolar, nilai tukarnya akan makin tertekan. Dan jika sudah terjadi, akan sulit dibalikkan,” ujar Leah Traub, manajer portofolio dari Lord Abbett.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : kumparan.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *