Sistem kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan menyerap hampir separuh konsumsi energi pusat data global pada akhir 2025. Prediksi ini berasal dari analisis Alex de Vries-Gao, pendiri situs Digiconomist yang fokus pada keberlanjutan teknologi. Temuannya akan diterbitkan dalam jurnal Joule.
Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), total konsumsi listrik data center dunia (tanpa penambangan kripto) mencapai 415 terawatt-jam (TWh) pada tahun 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 20% diyakini sudah digunakan untuk sistem AI. De Vries-Gao memproyeksikan angka itu bisa melonjak hingga 49% pada akhir 2025.
Efisiensi Bisa Menekan Energi, Tapi Juga Picu Lonjakan Penggunaan
Estimasi tersebut didasarkan pada konsumsi daya chip dari perusahaan seperti Nvidia, AMD, dan Broadcom. Chip ini dipakai untuk melatih dan menjalankan berbagai model AI. Faktor lain yang dihitung adalah efisiensi infrastruktur data center serta penggunaan listrik untuk sistem pendingin.
Jika tren berlanjut, AI bisa menghabiskan hingga 23 gigawatt (GW) energi—dua kali lipat dari konsumsi listrik Belanda. Namun, permintaan perangkat keras bisa melambat karena beberapa hal. Misalnya, penurunan minat pada aplikasi seperti ChatGPT atau hambatan produksi chip akibat ketegangan geopolitik.
De Vries-Gao menyebut larangan ekspor chip ke Tiongkok sebagai contoh. Situasi ini mendorong pengembangan model seperti DeepSeek R1 yang menggunakan chip lebih sedikit. Di sisi lain, efisiensi sistem bisa menurunkan konsumsi daya. Tapi ini juga berpotensi mendorong penggunaan AI yang lebih luas, terutama oleh negara-negara yang membangun sistem AI mereka sendiri (sovereign AI).
Proyek pusat data Stargate milik OpenAI yang dibangun bersama Crusoe Energy di Uni Emirat Arab juga jadi sorotan. Crusoe disebut telah mengamankan kapasitas energi berbasis gas sebesar 4,5 GW. De Vries-Gao memperingatkan proyek ini bisa memperburuk ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Perusahaan besar seperti Google dan Microsoft bahkan mengakui bahwa ekspansi AI membuat mereka sulit mencapai target lingkungan. Namun, informasi soal konsumsi listrik AI dalam penggunaan sehari-hari masih minim. Uni Eropa memang mewajibkan pelaporan konsumsi energi saat pelatihan model, tetapi tidak untuk operasional harian.
Profesor Adam Sobey dari Alan Turing Institute menyatakan perlunya transparansi yang lebih besar. Ia menekankan bahwa AI sebenarnya bisa digunakan untuk menghemat energi di sektor transportasi dan industri. “Beberapa contoh pemanfaatan AI yang tepat mungkin cukup untuk menutupi konsumsi listrik di awal,” katanya.
Baca artikel lainnya di sini:
Strategi Digital Marketing yang Ramah Lingkungan di Era AI
Sumber : theguardian.com






