Serangan Siber Ganggu Operasional M&S: Penjualan Online Lumpuh, Kepercayaan Konsumen Teruji

serangan siber Marks & Spencer
Sumber Foto : Freepik

Marks & Spencer (M&S), peritel pakaian terbesar di Inggris, sedang menghadapi tantangan besar akibat serangan siber Marks & Spencer yang melumpuhkan sistem IT mereka sejak akhir pekan Paskah. Akibat serangan ini, layanan belanja online terpaksa dihentikan. Bahkan, beberapa produk menjadi sulit ditemukan di toko-toko fisik.

Laporan keuangan tahunan M&S yang dijadwalkan rilis Rabu ini (29/5) mencakup periode sebelum serangan terjadi. Namun perhatian publik kini tertuju pada bagaimana M&S menangani krisis ini dan apa dampaknya terhadap keuangan perusahaan. Perlu diketahui, penjualan online pakaian dan perlengkapan rumah tangga M&S bernilai sekitar £3,8 juta setiap hari.

Stuart Machin, CEO M&S, telah mengimbau pelanggan untuk berbelanja langsung di toko. Sayangnya, perusahaan diperkirakan kehilangan peluang penjualan penting selama periode cuaca cerah. Ini biasanya menjadi saat puncak pembelian koleksi musim panas secara online.

Dampak Penjualan dan Kerugian Data Pribadi

Menurut Susannah Streeter dari Hargreaves Lansdown, segmen fashion kemungkinan menjadi korban utama dalam krisis ini. Konsumen tidak bisa mengakses produk musim panas yang biasanya laris di cuaca hangat. Di sisi lain, M&S mungkin tetap memperoleh keuntungan dari lonjakan penjualan makanan seperti produk piknik dan barbeku. Meski begitu, margin keuntungan dari makanan jauh lebih kecil dibandingkan pakaian dan perlengkapan rumah.

Situasi makin rumit ketika perusahaan mengonfirmasi bahwa data pribadi ribuan pelanggan berhasil dicuri. Informasi seperti nama, alamat, dan riwayat pemesanan ikut terdampak. Ini bisa memengaruhi kepercayaan publik terhadap keamanan data mereka di masa mendatang.

Hingga kini, M&S belum mengumumkan nilai kerugian pasti dari serangan ini. Namun analis dari Barclays memperkirakan kerugian dapat mencapai £200 juta pada tahun fiskal 2025–2026. Sebagian beban ini mungkin bisa dikompensasi lewat klaim asuransi senilai sekitar £100 juta.

Analis dari Shore Capital menyatakan bahwa dampak finansial bersih dari gangguan ini kemungkinan tidak terlalu besar. Mereka berharap pemulihan akan berjalan cepat dan stabil.

Serangan ini telah memangkas lebih dari £1,1 miliar dari nilai pasar M&S. Harga sahamnya pun jatuh setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam sembilan tahun terakhir.

Meski demikian, laporan keuangan tahun ini diperkirakan tetap menunjukkan pertumbuhan positif. M&S diprediksi mencetak peningkatan penjualan sebesar 5% menjadi £13,8 miliar. Laba sebelum pajak juga diperkirakan naik menjadi £840 juta, dari £716 juta tahun sebelumnya.

Investor kini menanti keputusan manajemen terkait panduan kinerja tahun depan. Mereka juga berharap adanya kenaikan dividen bagi pemegang saham, jika kondisi mulai stabil.


Baca juga artikel menarik lainnya seputar dunia digital marketing dan bisnis UKM di sini:
roledu.com/artikel

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *