Perang Dagang AS–China Mereda Setelah Kesepakatan Pemangkasan Tarif

AS dan China
Sumber Foto : Freepik

Perang dagang AS–China menunjukkan tanda-tanda mereda setelah kedua negara mencapai kesepakatan penting untuk menurunkan tarif impor masing-masing. Kesepakatan tersebut diumumkan pada 14 Mei 2025 di Jenewa, Swiss, dan memberikan waktu 90 hari untuk merumuskan perjanjian perdagangan yang lebih luas.

Berdasarkan laporan Bloomberg, tarif gabungan Amerika Serikat terhadap sebagian besar barang impor asal China yang sebelumnya mencapai 145%, akan diturunkan menjadi 30%. Tarif tersebut mencakup bea masuk yang berkaitan dengan zat fentanil. Sebaliknya, China juga sepakat menurunkan tarif atas produk AS dari 125% menjadi hanya 10%.

“Kami sepakat tidak ada pihak yang ingin memisahkan diri,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam konferensi pers. Ia menyebut diskusi berlangsung produktif, terutama dalam isu fentanil yang mendorong peningkatan pembelian barang AS oleh China.

Bessent menambahkan bahwa pengurangan tarif ini tidak mencakup bea sektoral yang diterapkan terhadap semua mitra dagang AS. Tarif khusus era Presiden Donald Trump juga tetap diberlakukan terhadap China.

Pasar Merespons Positif

Kesepakatan ini langsung berdampak positif di pasar global. Indeks saham Asia dan Eropa menguat, sementara indeks berjangka S&P 500 melonjak hingga 3%. Dolar AS menguat, dan harga minyak ikut naik. Yuan lepas pantai menguat lebih dari 0,5% sebelum kembali melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak Maret 2025, yakni 1,95%.

Sebagai bagian dari kesepakatan, kedua negara juga sepakat membentuk mekanisme lanjutan untuk mendiskusikan hubungan perdagangan dan ekonomi. Pemerintah China menyatakan akan menunda atau membatalkan kebijakan balasan nontarif yang diterapkan sejak awal April 2025, termasuk pembatasan ekspor tanah jarang.

Sementara itu, pihak AS menyebut pencabutan pembatasan tersebut menjadi prioritas karena berdampak pada berbagai sektor industri.

Kepentingan Ekonomi dan Strategi Politik

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menegaskan bahwa Washington ingin memperkuat perdagangan yang lebih seimbang dengan Beijing. Meskipun mantan Presiden Donald Trump sempat mengusulkan tarif 80% terhadap China, keputusan akhir diserahkan kepada Departemen Keuangan AS.

Greer menyatakan bahwa negosiasi tarif ini tidak mencakup pembahasan mengenai kesepakatan dagang Fase Satu tahun 2020. Fokus utama saat ini adalah menurunkan tarif ke level yang tetap menguntungkan namun tidak bersifat embargo.

Di sisi lain, pemerintah China kembali menegaskan sikapnya dalam buku putih keamanan nasional yang dirilis bersamaan dengan pengumuman pengurangan tarif. China menyatakan menolak pendekatan tekanan dan intimidasi serta menyerukan hubungan bilateral yang dilandasi saling menghormati.

Menurut Kepala Ekonom ING untuk wilayah Greater China, Lynn Song, kesepakatan ini akan dipandang sebagai keberhasilan diplomatik bagi China karena berhasil menurunkan tarif tanpa memberikan konsesi besar.

Namun, analis Bloomberg Economics, Maeva Cousin, mencatat bahwa meskipun ada penurunan tarif, pajak impor AS terhadap China tetap tinggi dan berpotensi memangkas volume impor hingga 70% dalam jangka menengah.

Masih Ada Tantangan

Sejarah mencatat bahwa kesepakatan seperti ini membutuhkan waktu panjang dan risiko pembatalan selalu ada. Pada tahun 2018, kedua negara juga sempat sepakat untuk menunda konflik tarif, namun kemudian AS menarik diri dari perjanjian tersebut. Hal ini memicu perang dagang yang berlarut-larut hingga akhirnya tercapai kesepakatan Fase Satu pada awal 2020. Namun, kesepakatan itu gagal sepenuhnya dilaksanakan, terutama karena dampak pandemi.

Kini, publik dan pasar menantikan apakah kesepakatan 90 hari ini akan benar-benar berujung pada perjanjian jangka panjang. Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, dialog terbuka dan kerja sama ekonomi tetap menjadi kunci untuk meredam ketegangan dagang global.


Baca juga artikel lainnya seputar isu ekonomi global dan kebijakan dagang di sini:
roledu.com/artikel

Sumber : investor.id

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *