Ketidakpastian Tarif Trump Guncang Bisnis McDonald’s dan GM, Penjualan Anjlok

dampak tarif Trump
Sumber Foto : Freepik

Ketidakpastian kebijakan tarif yang diberlakukan Donald Trump mulai menunjukkan dampak nyata terhadap dunia usaha. Dua raksasa industri, McDonald’s dan General Motors (GM), mengalami penurunan penjualan dan laba yang cukup signifikan akibat situasi ini.

McDonald’s mencatat penurunan penjualan sebesar 3,6% di pasar domestik Amerika Serikat pada kuartal pertama 2025. Penurunan ini terjadi karena konsumen mulai menahan pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ini merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak masa lockdown akibat pandemi Covid-19 pada 2020.

CEO McDonald’s, Chris Kempczinski, menyebut kondisi pasar saat ini sebagai yang “terberat”. Perusahaan juga melaporkan penurunan tak terduga sebesar 1% dalam penjualan global selama tiga bulan pertama tahun ini. Untuk mengatasi penurunan tersebut, McDonald’s meluncurkan menu “hemat” guna menarik kembali pelanggan ke produk andalannya seperti Big Mac dan McNuggets.

Tarif Impor Picu Biaya Tambahan di Sektor Otomotif

Sementara itu, General Motors juga terkena imbasnya. Produsen mobil asal Detroit ini memangkas proyeksi laba tahunannya. Dari sebelumnya $13,7 miliar–$15,7 miliar menjadi hanya $10 miliar–$12 miliar. GM memperkirakan potensi kerugian akibat tarif bisa mencapai $5 miliar pada tahun 2025.

Meskipun Trump mengumumkan pelonggaran sebagian bea masuk untuk mobil dan komponen impor, beban biaya tetap tinggi. GM masih dikenai tarif 25% untuk sejumlah produk impor. Pemerintah memberi opsi keringanan tarif sementara, tetapi program ini akan dihentikan dalam dua tahun ke depan.

CEO GM, Mary Barra, menyampaikan apresiasi kepada pemerintahan Trump atas dukungannya terhadap industri otomotif dalam surat kepada pemegang saham. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan pemerintah karena kebijakan perdagangan terus berubah.

Kebijakan tarif yang terus berganti ini juga membuat Stellantis dan Mercedes-Benz menarik proyeksi keuangan mereka. Ketiganya memiliki pabrik besar di Meksiko dan Kanada, membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan tarif. Padahal, selama puluhan tahun, perdagangan lintas batas ini berjalan lancar berkat perjanjian perdagangan bebas.

Dampak kebijakan ini turut dirasakan sektor ritel dan makanan cepat saji. Perusahaan seperti Starbucks, Domino’s Pizza, dan Chipotle melaporkan penurunan jumlah konsumen yang memilih makan di luar.

Ekonomi AS Mulai Tertekan

Biro Statistik AS mencatat bahwa ekonomi Amerika menyusut sebesar 0,3% pada kuartal pertama 2025. Sebelumnya, ekonomi sempat tumbuh 2,4% di kuartal akhir 2024. Ini adalah kontraksi pertama sejak awal 2022.

Indeks sentimen konsumen turun tajam hingga 32% antara Januari dan April. Angka ini menyentuh level terendah sejak resesi tahun 1990. Penurunan ini dipicu kekhawatiran publik terhadap potensi perang dagang global menyusul pengumuman kebijakan tarif baru.


Baca artikel lainnya di sini:
Ingin tahu lebih banyak tentang dinamika ekonomi dan strategi bisnis digital 2025?
Kunjungi roledu.com

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *