Teknologi pengenal wajah kembali menjadi sorotan setelah dua narapidana yang kabur dari penjara di New Orleans berhasil terdeteksi hanya beberapa menit setelah pelarian. Mereka terekam oleh kamera pintar di kawasan French Quarter—bagian dari sistem milik Proyek NOLA—yang telah dilengkapi teknologi canggih tersebut. Satu orang langsung ditangkap di lokasi, sementara satu lainnya diamankan beberapa hari kemudian.
Jaringan kamera milik Proyek NOLA terdiri dari sekitar 5.000 unit yang tersebar di kota New Orleans. Sekitar 200 kamera di antaranya telah dilengkapi teknologi pengenal wajah. Organisasi nirlaba ini kerap berbagi informasi dengan kepolisian, termasuk dalam insiden pelarian terbaru.
Menurut Kepala Kepolisian New Orleans, Anne Kirkpatrick, keberhasilan ini menunjukkan pentingnya teknologi pengenal wajah dalam membantu penegakan hukum. “Inilah alasan mengapa teknologi pengenal wajah sangat krusial,” ujarnya dalam konferensi pers pekan ini.
Namun, keberadaan teknologi ini juga memunculkan kekhawatiran dari berbagai kelompok advokasi. Mereka menilai bahwa penggunaannya dapat mengancam privasi publik. Lebih jauh lagi, beberapa kasus penangkapan keliru di kota lain akibat kesalahan identifikasi membuat teknologi ini menuai kontroversi.
Yang menjadi perhatian lebih lanjut adalah fakta bahwa Proyek NOLA tidak dikelola langsung oleh aparat kepolisian. Meski bekerja sama erat, mereka tidak tunduk pada sistem pengawasan atau akuntabilitas yang sama. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal transparansi dan kendali terhadap penggunaan data publik.
Peran Komunitas dan Etika Pemantauan
Bryan Lagarde, Direktur Eksekutif Proyek NOLA, menegaskan bahwa organisasi ini adalah inisiatif masyarakat. Kamera-kamera mereka dipasang di rumah, sekolah, gereja, hingga bisnis lokal—semuanya dengan persetujuan pemilik properti. Ia juga menyatakan bahwa kamera dapat dicabut kapan saja jika kepercayaan publik terganggu.
“Sejak awal, ini adalah proyek komunitas. Jika kepercayaan publik hilang, jaringan kamera ini bisa dibongkar kapan pun,” kata Lagarde kepada CNN.
Proyek NOLA, yang mulai beroperasi pada 2009 pasca-Badai Katrina, dirancang untuk membantu kepolisian yang kekurangan sumber daya. Selain di New Orleans, mereka kini mengelola kamera di beberapa kota lain di AS. Sistem mereka memungkinkan pencocokan wajah dari daftar buronan yang dibagikan polisi. Ketika ada kecocokan, sistem akan mengirim peringatan secara real-time.
Hal inilah yang terjadi pada insiden pelarian Jumat lalu. Dua narapidana tertangkap kamera saat berjalan di depan toko di French Quarter. Satu ditangkap seketika, sedangkan satu lainnya baru ditemukan di kompleks perumahan beberapa hari kemudian. Proyek NOLA membantu memperkirakan lokasinya meskipun wilayah itu tidak terjangkau kamera.
Antara Efektivitas dan Risiko Kesalahan
Dalam insiden lain, teknologi Proyek NOLA juga digunakan untuk menyelidiki serangan teroris yang menewaskan 14 orang di New Orleans pada Hari Tahun Baru lalu. Namun, Lagarde menolak menyebut nama perusahaan pihak ketiga penyedia sistem pengenal wajah yang mereka gunakan.
Sejauh ini, tidak ada regulasi federal yang mengatur secara spesifik penggunaan teknologi AI seperti ini oleh lembaga penegak hukum lokal. Padahal, sejumlah kota lain di AS telah melarang penggunaan teknologi pengenal wajah oleh instansi pemerintah karena masalah akurasi dan etika.
Penelitian menunjukkan bahwa teknologi ini seringkali kurang akurat dalam mengenali wajah perempuan dan orang kulit berwarna. Ini menimbulkan risiko salah tangkap terhadap kelompok yang telah lama mengalami diskriminasi struktural dalam sistem hukum AS.
Upaya Transparansi dan Evaluasi Etik
Lagarde mengatakan bahwa Proyek NOLA berusaha transparan kepada publik. Mereka rutin membagikan informasi lewat media sosial dan menggandeng warga dalam pemasangan kamera. Ia juga menegaskan bahwa semua data mereka berasal dari jaringan sendiri dan tidak dibiayai dana publik.
“Seluruh data berasal dari jaringan internal kami. Warga bisa menolak kapan saja. Polisi tidak bisa langsung mengakses sistem. Kami yang menjadi penjaga gerbang,” jelasnya.
Kepala Kepolisian Anne Kirkpatrick mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengevaluasi kemitraan dengan Proyek NOLA, termasuk keakuratan data yang diterima dan kesesuaiannya dengan kebijakan kota.
Baca artikel menarik lainnya di sini: roledu.com/artikel
Sumber : cnn.com






