China resmi memblokir akuisisi startup AI Manus oleh Meta senilai Rp34 triliun karena alasan regulasi dan kepemilikan teknologi.
Pemerintah China resmi menghentikan rencana akuisisi startup kecerdasan buatan Manus oleh Meta Platforms Inc. senilai US$2 miliar atau sekitar Rp34 triliun. Larangan tersebut dikeluarkan oleh National Development and Reform Commission (NDRC) yang memerintahkan seluruh proses transaksi dibatalkan sepenuhnya.
Akuisisi Manus sebelumnya dirancang untuk memperkuat pengembangan Meta AI melalui integrasi teknologi agen AI otonom milik startup tersebut. Dalam pernyataan resminya, NDRC menegaskan investasi asing pada proyek Manus dinilai tidak sesuai dengan ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku di China.
Penyelidikan terhadap kesepakatan Meta dan Manus sebenarnya telah berlangsung sejak awal 2026. Kementerian Perdagangan China mulai menelaah transaksi itu pada Januari sebelum pengawasan diperketat pada Maret 2026.
Tekanan regulator berdampak langsung pada jajaran pimpinan Manus. CEO Manus Xiao Hong dan Chief Scientist Ji Yichao disebut dipanggil ke Beijing untuk menjalani pertemuan dengan regulator. Keduanya juga dilaporkan berada dalam pembatasan perjalanan keluar dari wilayah China daratan.
Relokasi ke Singapura Tak Hentikan Intervensi China
Situasi menjadi semakin kompleks karena Manus telah memindahkan kantor pusatnya ke Singapura sejak pertengahan 2025. Startup AI Manus tersebut pertama kali berdiri di Beijing pada 2022 dengan nama induk Butterfly Effect sebelum akhirnya merelokasi domisili hukumnya.
Meski demikian, otoritas China tetap mengklaim memiliki yurisdiksi terhadap teknologi dan aset perusahaan. Bahkan sekitar 100 pegawai Manus dilaporkan sudah dipindahkan ke kantor Meta di Singapura sejak Maret 2026 sebagai bagian dari proses integrasi awal.
Dalam struktur organisasi Meta, Xiao Hong sebelumnya dijadwalkan melapor langsung kepada COO Meta, Javier Olivan. Namun penghentian akuisisi ini memaksa perusahaan meninjau ulang rencana integrasi bisnis serta kepemilikan teknologi Manus.
Juru bicara Meta menyatakan perusahaan meyakini transaksi tersebut telah mengikuti aturan hukum yang berlaku dan berharap investigasi dapat menemukan penyelesaian yang tepat.
Persaingan AI Makin Ketat
Manus dikenal sebagai pengembang agen AI “otonom” yang mampu merancang dan menjalankan tugas secara mandiri tanpa banyak intervensi manusia. Startup itu mencatat pendapatan tahunan berulang atau annual recurring revenue (ARR) hingga US$100 juta hanya dalam delapan bulan sejak produk diluncurkan.
Sebelum dibidik Meta, Manus memperoleh pendanaan sekitar Rp1,29 triliun dalam putaran investasi yang dipimpin Benchmark pada Mei 2025. Investasi tersebut sempat menuai sorotan dari Senator Amerika Serikat, John Cornyn, terkait aliran modal AS ke perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan China.
Bagi Meta, gagalnya akuisisi startup AI Manus menjadi hambatan baru dalam persaingan teknologi AI global. Perusahaan induk Facebook dan Instagram itu saat ini tengah berupaya mengejar dominasi pemain besar seperti OpenAI dan Google melalui ekspansi infrastruktur AI dan investasi besar pada chip komputasi.
Di sisi lain, Meta juga sedang melakukan restrukturisasi internal dengan rencana pengurangan sekitar 8.000 karyawan di tengah fokus perusahaan memperkuat bisnis kecerdasan buatannya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com





