Amazon mengungkap lonjakan signifikan dari bisnis kecerdasan buatan (AI) di unit cloud Amazon Web Services (AWS) yang kini menghasilkan pendapatan AI AWS dengan laju tahunan lebih dari US$15 miliar atau sekitar Rp255 triliun. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa investasi infrastruktur AI yang digelontorkan perusahaan mulai membuahkan hasil nyata di tengah kekhawatiran pasar soal besarnya belanja modal teknologi.
CEO Amazon Andy Jassy menyampaikan bahwa angka tersebut berasal dari kinerja kuartal pertama 2026 dan mencerminkan sekitar 10% dari target pendapatan tahunan AWS yang diproyeksikan mencapai US$142 miliar. Pengungkapan ini menjadi laporan pertama yang secara spesifik menunjukkan kontribusi bisnis AI terhadap pendapatan AWS secara lebih transparan.
Respons pasar terbilang positif. Saham Amazon tercatat naik sekitar 4,5% setelah laporan tersebut dirilis, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap strategi monetisasi AI perusahaan. Selain itu, Amazon juga menegaskan bahwa sebagian besar kontrak pelanggan telah mengamankan penggunaan layanan AI AWS untuk beberapa tahun ke depan.
Lonjakan Belanja Modal dan Strategi AI
Amazon juga mengumumkan rencana investasi infrastruktur AI besar-besaran dengan alokasi belanja modal atau capital expenditure mencapai US$200 miliar tahun ini. Dana tersebut difokuskan pada pembangunan pusat data, pengadaan perangkat keras AI, hingga pengembangan chip internal.
Jassy menegaskan bahwa investasi tersebut tidak bersifat spekulatif. Ia menyebut sebagian besar proyek infrastruktur yang berjalan pada 2026 sudah memiliki jalur monetisasi yang diperkirakan mulai terlihat pada 2027 hingga 2028. Hal ini sekaligus menjadi bantahan atas kekhawatiran terbentuknya gelembung di sektor AI.
Bisnis Chip Amazon Tumbuh Pesat
Selain layanan cloud, Amazon juga mencatat pertumbuhan signifikan pada bisnis semikonduktor internalnya. Unit yang mencakup chip Graviton, Trainium, dan sistem jaringan Nitro kini menghasilkan lebih dari US$20 miliar pendapatan tahunan.
Langkah pengembangan chip ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal seperti Nvidia sekaligus meningkatkan efisiensi biaya bagi pelanggan AWS. Amazon juga membuka peluang komersialisasi lebih luas, termasuk potensi penjualan sistem chip ke perusahaan lain di masa depan.
Persaingan Ketat di Industri AI
Dalam lanskap persaingan, pendapatan AI AWS kini menjadi salah satu tolok ukur utama dalam kompetisi dengan raksasa teknologi lain. Microsoft sebelumnya melaporkan bisnis AI mereka telah melampaui US$13 miliar secara annualized pada akhir 2024.
Meski metode perhitungan berbeda antarperusahaan, data ini menunjukkan bahwa pasar AI mulai menghasilkan pendapatan nyata, bukan sekadar investasi jangka panjang. Di sisi lain, investasi infrastruktur AI yang masif dari Amazon, Microsoft, dan Google menandai fase baru persaingan di sektor cloud dan komputasi AI global.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






