Kenaikan War Risk Surcharge Bayangi Asuransi Marine Cargo di Selat Hormuz

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru bagi industri asuransi marine cargo. Eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz dinilai dapat mendorong kenaikan war risk surcharge atau tambahan premi risiko perang untuk pelayaran di jalur tersebut.

Pengamat asuransi Wahyudin Rahman menjelaskan bahwa rute dengan tingkat ancaman tinggi berpotensi mengalami penyesuaian tarif secara cepat. Menurutnya, dinamika keamanan di kawasan konflik membuat perusahaan asuransi harus lebih fleksibel dalam menentukan tarif.

“Di pasar global sudah terlihat adanya pengetatan syarat polis dan kenaikan premi tambahan, terutama untuk pengiriman minyak dan LNG yang melintasi zona konflik,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/3).

War Risk Surcharge Bisa Naik Signifikan

Untuk jalur pelayaran normal, tarif asuransi marine cargo relatif stabil. Namun, kondisi berbeda berlaku bagi rute yang masuk kategori berisiko tinggi. Di wilayah konflik, war risk surcharge dapat melonjak beberapa kali lipat dibandingkan rute biasa.

Tambahan premi tersebut bisa berkisar dari beberapa basis poin hingga persentase tertentu dari nilai kapal atau muatan dalam satu perjalanan. Besarannya bergantung pada tingkat ancaman dan kebijakan masing-masing underwriter.

Situasi ini menambah tekanan bagi pelaku usaha pelayaran dan perdagangan energi global. Pasalnya, biaya perlindungan asuransi menjadi salah satu komponen penting dalam struktur biaya logistik.

Selat Hormuz dan Dampak Sistemik

Sebagai jalur strategis energi dunia, Selat Hormuz memegang peran vital dalam distribusi minyak global. Setiap hari, sebagian besar perdagangan minyak mentah dunia melintasi kawasan tersebut.

Nilai pertanggungan yang terekspos pun sangat besar. Cakupannya meliputi nilai kapal tanker, muatan minyak mentah, hingga potensi kerugian akibat gangguan usaha (business interruption).

Wahyudin menilai, gangguan di jalur ini berpotensi menimbulkan dampak sistemik terhadap rantai pasok global. Risiko klaim asuransi juga dapat meningkat secara signifikan.

Untuk merespons situasi tersebut, industri asuransi dan reasuransi biasanya memperketat proses underwriting. Mereka juga meninjau ulang tarif dan ketentuan polis, menaikkan deductible, serta membatasi limit pertanggungan di wilayah berisiko tinggi.

Selain itu, perusahaan perlu memastikan kapasitas reasuransi tetap memadai. Pemantauan risiko secara real-time dan evaluasi rute pelayaran menjadi langkah krusial. Strategi ini penting untuk menjaga kualitas portofolio dan stabilitas klaim di tengah ketidakpastian geopolitik.

Dinamika konflik di kawasan tersebut menunjukkan bahwa war risk surcharge dan kebijakan asuransi marine cargo akan terus menjadi perhatian pelaku industri. Perubahan situasi dapat terjadi sewaktu-waktu dan berdampak langsung pada biaya serta perlindungan perdagangan global.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *