Pengusaha di Asia kini menghadapi kebingungan setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan sebagian besar kebijakan tarif besar-besaran Presiden Donald Trump minggu lalu. Keputusan ini menimbulkan ketidakpastian di kalangan eksportir Asia, produsen, dan perusahaan logistik mengenai akses ke pasar konsumen terbesar dunia.
“Ketidakpastian selalu tidak menyenangkan,” kata Push Sharma, pendiri merek wellness asal Singapura, Haldy. Perusahaan Sharma sempat menyiapkan strategi masuk pasar AS selama bertahun-tahun sebelum menunda rencana tersebut secara mendadak tahun lalu.
“Kami sudah melakukan pendaftaran merek, persiapan, dan diskusi dengan distributor,” ujarnya. “Tapi tiba-tiba semua terasa drastis, sehingga kami harus menunda rencana.”
Dampak Perubahan Kebijakan Perdagangan AS
Tarif Trump awalnya dirancang untuk mengurangi ketergantungan global terhadap China. Namun, para eksportir kini khawatir bahwa perubahan kebijakan justru dapat memperkuat dominasi manufaktur Beijing.
Pada Jumat lalu, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa presiden tidak memiliki kewenangan darurat untuk memberlakukan tarif tersebut, sehingga sebagian besar pungutan dianggap tidak sah. Tak lama setelah itu, Trump menandatangani perintah eksekutif baru yang memberlakukan tarif global 10% selama 150 hari tanpa persetujuan Kongres, dengan ancaman kenaikan menjadi 15% di hari berikutnya.
Meski tarif baru berlaku, detail lebih lanjut mengenai rencana tarif AS tidak banyak diungkapkan. “Keputusan ini hanya menambah ketidakpastian,” kata Monica Gorman, mantan pejabat perdagangan Gedung Putih, seraya menyebut tarif baru sebagai langkah sementara sambil menunggu kebijakan lebih lanjut.
Dan Ives dari Wedbush Securities menambahkan, “Perusahaan yang beroperasi di jaringan produksi Asia kini harus membuat keputusan investasi tanpa panduan jelas dari Washington.”
Strategi Perusahaan Asia dalam Menghadapi Ketidakpastian
Tahun sebelumnya pun penuh tantangan. Sejak pengumuman tarif Trump, biaya produksi meningkat, memaksa beberapa klien menegosiasikan ulang atau membatalkan pesanan. Tomi Mäkelä, General Manager Lanna Clothing di Thailand, menyatakan, “Saya tidak bisa menanggung biaya selamanya, jadi saya harus menaikkan harga.”
Hal serupa dirasakan Sharma dari Haldy. Ketidakpastian tarif membuat perhitungan harga produk menjadi sulit. Lynsey Lim, pendiri Handmade Heroes, menambahkan bahwa fokus perusahaan kini lebih pada efisiensi dan diversifikasi pasar, bukan sekadar harga. Kok Ping Soon, CEO Singapore Business Federation, menekankan, “Ketidakpastian, bukan angka tarif itu sendiri, lebih menghambat kepercayaan bisnis.”
Sebagai respons, beberapa perusahaan mulai menyesuaikan strategi. Haldy memperluas operasi ritel ke Malaysia dan menjajaki pasar Timur Tengah. Sementara Lanna Clothing memperluas jangkauan ke Kanada, Australia, dan Eropa.
China Tetap Menjadi Tantangan Utama
Meskipun tarif AS berubah, China tetap menjadi pusat manufaktur utama di Asia. Aturan asal negara tetap berlaku, sehingga perusahaan sulit menghindari rantai pasok China. Sharma menambahkan, “Produk dan kemasan kami dibuat di China, jadi tarif 25% tetap berlaku.”
Pabrik-pabrik China juga menaikkan harga untuk mempertahankan operasional, sementara kemampuan mereka memproduksi dalam skala besar tetap menjadi keunggulan. Mäkelä menegaskan, “China bisa memproduksi lebih efisien dan lebih murah dibanding kami di Thailand.”
Kedatangan Trump ke China akhir Maret dan potensi kesepakatan bilateral menambah ketidakpastian. Selain itu, tarif yang berlaku juga memengaruhi hubungan AS dengan mitra dagang Asia lainnya, menciptakan risiko alat perdagangan baru yang lebih spesifik pada sektor tertentu.
Para perusahaan kini mencoba mengelola risiko dengan menyesuaikan rantai pasok dan mengeksplorasi pasar baru. Meski pasar AS tetap menarik, banyak eksportir Asia mulai berfokus pada hal-hal yang bisa mereka kontrol.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di https://roledu.com/artikel.