Perusahaan teknologi dan ritel daring asal Inggris, Ocado Group, mengumumkan rencana pemangkasan karyawan sebanyak 1.000 posisi dalam setahun ke depan. Langkah ini setara dengan sekitar 5% dari total tenaga kerja globalnya dan dilakukan sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya perusahaan.
Direktur Utama Ocado, Tim Steiner, menyatakan bahwa restrukturisasi organisasi membuat sejumlah peran tidak lagi dibutuhkan. Mayoritas pengurangan tenaga kerja akan terjadi di Inggris, khususnya di kantor pusat perusahaan di Hatfield, Hertfordshire.
Saat ini, Ocado mempekerjakan sekitar 20.000 orang di seluruh dunia, dengan sebagian besar berbasis di Inggris. Sekitar dua pertiga dari total pemangkasan karyawan akan berdampak pada tenaga kerja di negara tersebut, terutama di divisi teknologi dan tim pendukung operasional.
Tekanan Bisnis dan Tantangan Pasar
Sebagai perusahaan yang menyediakan teknologi untuk pusat distribusi supermarket sekaligus mengelola bisnis belanja daring bersama Marks & Spencer, Ocado menghadapi tekanan persaingan yang semakin ketat. Perusahaan menargetkan penghematan biaya hingga 150 juta pound sterling melalui langkah restrukturisasi ini.
Analis pasar dari IG, Chris Beauchamp, menilai keunggulan awal Ocado di pasar pengantaran bahan makanan kini mulai tergerus. Menurutnya, sejumlah peritel besar memilih mengembangkan teknologi sendiri daripada menggunakan solusi Ocado. Hal ini membuat posisi perusahaan semakin terdesak di tengah kompetisi industri.
Reaksi pasar pun terlihat jelas. Hingga tengah hari, harga saham Ocado tercatat turun lebih dari 7%. Sepanjang tahun terakhir, nilai saham perusahaan memang mengalami penurunan signifikan.
Kondisi ini diperburuk oleh keputusan mitra di Amerika Utara. Jaringan supermarket asal Amerika Serikat, Kroger, menutup tiga gudang yang dikelola Ocado. Sementara itu, perusahaan ritel Kanada, Sobeys, juga menghentikan operasional pusat distribusi di Calgary karena permintaan tidak memenuhi target.
Kerugian Melebar Meski Pendapatan Naik
Dalam laporan keuangan tahunan hingga 30 November, Ocado melaporkan pendapatan grup naik 12% menjadi 1,36 miliar pound sterling. Namun, kerugian sebelum pajak justru meningkat menjadi 377,6 juta pound sterling, dibandingkan 339,8 juta pound pada tahun sebelumnya.
Tim Steiner menegaskan bahwa restrukturisasi ini mencerminkan upaya perusahaan menyesuaikan struktur biaya dengan kondisi bisnis terkini. Ia mengakui keputusan tersebut berdampak pada banyak karyawan, namun perusahaan berkomitmen memberikan dukungan selama proses transisi.
Anggota parlemen dari Hatfield, Andrew Lewin, menyebut keputusan ini sebagai pukulan serius bagi komunitas setempat. Menurutnya, banyak warga yang berkontribusi dalam pertumbuhan perusahaan kini menghadapi ketidakpastian masa depan.
Secara terpisah, jaringan ritel Inggris Sainsbury’s juga mengumumkan bahwa hingga 300 pekerjaan berisiko terdampak restrukturisasi divisi teknologi dan data. Perubahan tersebut mencakup pembentukan satu tim khusus untuk Argos dan dua tim terpisah untuk bisnis Sainsbury’s.
Langkah pemangkasan karyawan dan efisiensi biaya yang dilakukan sejumlah perusahaan ritel ini mencerminkan dinamika industri yang terus berubah serta tekanan untuk menjaga kinerja keuangan tetap stabil.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel