Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan, namun besarannya menyusut pada Oktober 2025. Surplus bulan tersebut berada di angka US$ 2,39 miliar, turun dibandingkan September yang mencapai US$ 4,34 miliar. Pada periode ini, kinerja ekspor impor tercatat masing-masing sebesar US$ 24,24 miliar untuk ekspor dan US$ 21,84 miliar untuk impor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa meski menurun, catatan surplus Indonesia tetap berlanjut selama 66 bulan tanpa jeda sejak Mei 2020.
Nonmigas Masih Jadi Penopang Utama
Menurut Pudji, sektor nonmigas masih menjadi pendorong utama surplus Oktober 2025 dengan nilai US$ 4,31 miliar. Tiga kelompok komoditas yang menyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta produk besi dan baja.
Sementara itu, perdagangan komoditas migas kembali mengalami tekanan. Defisit tercatat mencapai US$ 1,92 miliar, terutama dipicu oleh meningkatnya impor minyak mentah dan produk olahan minyak.
Surplus Kumulatif Capai US$ 35,88 Miliar
Selama Januari hingga Oktober 2025, kinerja ekspor impor menghasilkan surplus neraca perdagangan total US$ 35,88 miliar. Angka tersebut naik hampir US$ 11 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Surplus kumulatif disokong kuat oleh komoditas nonmigas yang mencatat US$ 51,51 miliar. Namun, defisit migas masih besar, yakni US$ 15,63 miliar.
Kontributor surplus terbesar sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini meliputi produk lemak dan minyak hewani/nabati (US$ 28,12 miliar), bahan bakar mineral (US$ 22,59 miliar), besi dan baja (US$ 15,79 miliar), nikel dan produk turunannya (US$ 7,39 miliar), serta alas kaki (US$ 5,47 miliar).
Sebaliknya, beberapa komoditas nonmigas masih berada pada posisi defisit, seperti mesin dan peralatan mekanis, mesin elektrik, plastik beserta produk turunannya, instrumen optik dan medis, serta serealia.
Mitra Dagang Penyumbang Surplus dan Defisit
Tiga negara yang memberikan surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia pada Januari–Oktober 2025 adalah Amerika Serikat dengan US$ 17,4 miliar, India dengan US$ 11,37 miliar, dan Filipina dengan US$ 7,09 miliar. Di sisi lain, defisit terbesar tercatat dari Tiongkok (US$ 17,74 miliar), Australia (US$ 3,91 miliar), dan Brasil (US$ 1,48 miliar).
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.