Kemasan aluminium mulai dilirik sebagai pengganti plastik untuk produk-produk sehari-hari seperti sampo, sabun cair, hingga saus dan cairan pembersih. Di pusat riset Meadow di London, deretan kaleng aluminium berjejer rapi. Namun, kaleng-kaleng ini bukan untuk minuman, melainkan untuk menggantikan kemasan plastik konvensional dengan solusi yang lebih berkelanjutan.
Meadow, perusahaan rintisan dari Eropa, ingin membawa perubahan. Mereka menghadirkan sistem kemasan berbasis aluminium yang dirancang untuk mengurangi limbah plastik sekaligus mempermudah proses daur ulang.
Menurut National Packaging Waste Database, tingkat daur ulang aluminium mencapai 81%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan plastik yang hanya 52%.
Kaleng Aluminium dengan Banyak Fungsi
Meadow memodifikasi kaleng minuman menjadi kemasan serbaguna. Kaleng ini bisa digunakan untuk berbagai produk dan dilengkapi tutup yang bisa diganti sesuai kebutuhan. Bisa berupa pompa, semprotan, tutup tekan, atau ulir.
Ciri khasnya adalah bagian atas yang tersegel dan tepi berkerut. Ini menandakan bahwa isinya bukan minuman. Saat isinya habis, kaleng bisa diganti dan langsung didaur ulang.
Perusahaan produsen kaleng global, Ball, telah berinvestasi di sistem ini. Mereka akan memperkenalkannya ke merek-merek besar dalam industri perawatan pribadi.
“Kami menyadari bahwa wadah paling ramah lingkungan sudah ada—yakni kaleng aluminium,” ujar Victor Ljungberg, CEO Meadow. “Tantangannya adalah membawanya ke industri baru.”
Hambatan dan Adaptasi Konsumen
Aluminium memang ringan dan mudah didaur ulang. Namun, proses produksinya membutuhkan energi besar. Bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan pembuatan kaca.
Selain itu, harga kaleng aluminium juga lebih tinggi. Menurut Mark Lansley dari Broadland Drinks, biayanya empat kali lebih mahal dari botol kaca. Namun, kaleng ini bisa mengurangi emisi CO2 hingga 900 gram per botol.
Ia menyebut, perubahan hanya bisa terjadi jika manfaat lingkungan dikomunikasikan dengan baik. Lansley optimis penggunaan aluminium akan tumbuh jika biaya produksinya menurun.
Tantangan lain adalah kebiasaan konsumen. Banyak merek telah membangun identitas melalui bentuk kemasan unik, seperti botol saus Heinz atau semprotan Flash. Kaleng aluminium, yang kaku dan buram, tidak bisa menggantikan fungsi kemasan yang bisa ditekan atau memperlihatkan isi produk.
Mark Armstrong dari agensi desain Marks menambahkan bahwa banyak pabrik perlu investasi besar untuk beralih ke aluminium. Selain itu, pelapis dalam kaleng harus tetap ramah lingkungan agar tidak mengurangi nilai daur ulangnya.
Di sisi lain, inovasi plastik terus berkembang. Mulai dari plastik yang bisa didaur ulang tanpa batas, hingga yang dapat terurai secara hayati. Karena itu, menurut Jayne Paramor dari Anthesis, plastik mungkin masih jadi pilihan utama dalam beberapa sektor.
Penggunaan kemasan aluminium sebagai pengganti plastik menawarkan banyak keuntungan dari sisi keberlanjutan. Namun, tantangannya pun tidak sedikit, baik dari segi biaya, produksi, maupun kebiasaan konsumen. Masa depan akan ditentukan oleh seberapa cepat teknologi, produsen, dan konsumen beradaptasi dengan solusi yang lebih ramah lingkungan ini.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bbcnews.com
