Cara Menentukan Harga Jual Makanan Rumahan Biar Tetap Untung

harga jual makanan rumahan
Sumber Foto : Canva

Menjual makanan rumahan semakin diminati di tengah tren konsumsi praktis dan pencarian penghasilan tambahan yang fleksibel. Namun, salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha kecil adalah menentukan harga jual yang tidak hanya menarik pembeli, tapi juga tetap menghasilkan keuntungan. Banyak pelaku usaha yang masih menetapkan harga “asal balik modal” atau hanya mengikuti harga pasar tanpa perhitungan jelas, padahal ini bisa membuat bisnis cepat kehabisan napas.

Apalagi di 2025, dengan biaya bahan pokok yang terus fluktuatif dan persaingan usaha rumahan yang makin padat di platform digital seperti Instagram, TikTok Shop, dan GoFood, strategi penentuan harga menjadi krusial. Bagaimana cara menentukan harga jual makanan rumahan agar tetap untung dan bisa bersaing?

Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dengan Cermat

Langkah pertama yang tidak bisa dilewatkan adalah menghitung seluruh komponen biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu porsi makanan. HPP bukan hanya soal bahan baku. Anda juga perlu memasukkan biaya gas, listrik, air, kemasan, hingga ongkos tenaga kerja—termasuk jika Anda mengerjakannya sendiri. Hitung juga biaya tidak langsung seperti pembelian peralatan yang digunakan berkali-kali. Di era sekarang, banyak UMKM menggunakan template HPP dari aplikasi Excel atau Google Sheet untuk mempermudah.

Contohnya, jika Anda membuat 20 porsi ayam geprek, dan total bahan serta biaya operasionalnya mencapai Rp100.000, maka HPP per porsi adalah Rp5.000. Namun ini baru modal mentah.

Tambahkan Margin Untung yang Masuk Akal

Setelah mengetahui HPP, Anda perlu menentukan margin atau persentase keuntungan. Di bisnis makanan rumahan, margin 30–50% tergolong sehat, tergantung dari jenis produk dan daya beli target pasar Anda. Jangan terlalu rendah karena bisa menghambat pertumbuhan bisnis, tapi juga jangan terlalu tinggi sehingga membuat harga jual jadi tidak kompetitif.

Sebagai ilustrasi, jika HPP ayam geprek Anda Rp5.000, maka harga jual yang ideal bisa di kisaran Rp7.000–Rp8.000 per porsi. Margin ini akan membantu Anda menutup biaya tak terduga dan tetap punya ruang untuk diskon promosi.

Pertimbangkan Harga Pasar dan Nilai Tambah Produk

Sekarang, coba bandingkan harga Anda dengan kompetitor sejenis. Apakah Anda memberikan porsi lebih besar, kualitas bahan lebih baik, atau ada keunikan seperti sambal khas buatan sendiri? Jika ya, Anda bisa mematok harga sedikit lebih tinggi. Di 2025, konsumen semakin sadar kualitas dan tidak selalu mencari yang paling murah, tapi yang paling “worth it”.

Nilai tambah seperti kemasan ramah lingkungan, tampilan makanan yang Instagramable, atau layanan pesan antar gratis juga bisa menjadi pembenaran harga jual yang lebih tinggi.

Jangan Lupakan Biaya Platform dan Promosi

Bila Anda menjual lewat aplikasi seperti GrabFood atau ShopeeFood, ingat bahwa akan ada potongan komisi dari tiap transaksi. Hal ini harus dihitung sebagai biaya tambahan dalam menentukan harga jual. Selain itu, jika Anda rajin promosi lewat iklan digital, biaya ini juga sebaiknya dimasukkan agar tidak menggerus margin.

Kini banyak pebisnis makanan rumahan yang menggunakan strategi bundling (paket hemat) atau harga promosi terbatas sebagai taktik jitu menjaga keuntungan sambil tetap menarik minat konsumen baru.

Jaga Fleksibilitas, Tapi Punya Standar

Harga bukan hal yang sakral. Jika harga bahan pokok naik drastis atau daya beli masyarakat turun karena kondisi ekonomi, Anda bisa menyesuaikan harga atau porsi tanpa harus mengorbankan kualitas. Yang penting, Anda punya dasar perhitungan yang jelas dan tidak menetapkan harga berdasarkan perasaan semata.

Penting juga untuk transparan kepada pelanggan—banyak konsumen justru menghargai kejujuran dalam harga, apalagi jika mereka merasa mendapatkan nilai lebih.


Menentukan harga jual makanan rumahan bukan sekadar “kira-kira”. Anda butuh pendekatan cermat yang memperhitungkan biaya nyata, potensi keuntungan, serta perilaku konsumen saat ini. Di tengah tren digitalisasi dan persaingan ketat di 2025, harga yang tepat bisa menjadi pembeda antara bisnis yang bertahan dan yang tersingkir.

Jadi, sudah siap menyusun strategi harga yang sehat dan realistis?

Baca juga artikel berikut: Strategi Jualan Makanan Rumahan Biar Cepat Laku di Lingkungan Sendiri

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *