Nike Hadapi Tekanan Tarif: Produksi Dialihkan, Harga Naik

tarif impor AS
Sumber Foto : Freepik

Nike Siapkan Strategi Hadapi Tarif Impor AS

Raksasa olahraga global Nike menyampaikan bahwa kebijakan tarif impor AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah mitra dagang dapat meningkatkan beban biaya perusahaan hingga sekitar $1 miliar (setara Rp15,9 triliun) tahun ini. Untuk mengantisipasi dampak kebijakan tersebut, Nike berencana mengurangi ketergantungan pada produksi di China.

Langkah ini ditempuh setelah bulan lalu Nike mengumumkan kenaikan harga pada beberapa produk sepatu dan pakaian di pasar AS. Kebijakan ini mengikuti jejak Adidas yang juga menyatakan akan menyesuaikan harga akibat tekanan tarif. Menurut Chief Financial Officer Matthew Friend, persentase produksi Nike di China untuk pasar AS akan dikurangi dari 16% menjadi satu digit tinggi pada akhir Mei 2026.

Produksi Dipindahkan dan Saham Nike Menguat

Sebagai respons terhadap kenaikan tarif, Nike menyusun strategi untuk memindahkan sebagian produksinya dari China ke negara lain. Hal ini penting mengingat China menjadi salah satu negara yang terdampak paling besar oleh peningkatan tarif dari AS. Di sisi lain, Trump juga sempat mengumumkan tarif tinggi sebesar 46% terhadap barang dari Vietnam dan 32% dari Indonesia—dua lokasi utama produksi Nike selain China. Namun, tarif tersebut kemudian diturunkan sementara menjadi 10% guna memberi ruang negosiasi selama 90 hari.

Kabar baik datang dari sisi keuangan, saham Nike melonjak lebih dari 10% dalam perdagangan setelah jam bursa. Lonjakan ini dipicu oleh proyeksi kinerja kuartal pertama yang lebih baik dari perkiraan analis, meskipun secara keseluruhan, pendapatan kuartal keempat hanya mencapai $11,1 miliar—terendah sejak kuartal ketiga tahun 2022.

Perkembangan Negosiasi Dagang AS-China

Sementara itu, Amerika Serikat dan China telah mencapai kesepakatan untuk melanjutkan kerja sama dagang. Dalam perjanjian yang baru saja disepakati, China akan meningkatkan pengiriman logam tanah jarang ke AS, sementara Washington berjanji akan melonggarkan pembatasan ekspor. Presiden Trump menyatakan bahwa kesepakatan serupa dengan India juga sedang dibahas, meskipun tidak semua negara akan mendapatkan perlakuan yang sama.

Trump menekankan bahwa jika negosiasi tidak berhasil, pemerintah siap kembali memberlakukan tarif tinggi antara 25% hingga 45%. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa masa tenggang 90 hari dapat diperpanjang tergantung hasil negosiasi. Meski begitu, Trump menegaskan bahwa batas waktu tersebut “tidak kritis”, dan Gedung Putih siap menawarkan kesepakatan baru terkait tarif.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *