Nilai dolar Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak terbatas dalam waktu dekat sebelum melemah menjelang akhir tahun, seiring meningkatnya optimisme pasar bahwa konflik di Timur Tengah akan segera mereda. Kondisi ini turut memengaruhi pasar valuta asing, yang masih bereaksi terhadap perubahan sentimen risiko global dan tekanan inflasi yang belum stabil.
Survei Reuters terhadap sejumlah ahli strategi valuta asing menunjukkan mayoritas pasar melihat dolar masih akan bertahan di level saat ini dalam beberapa bulan ke depan, sebelum mengalami tekanan pelemahan. Dalam tiga bulan, euro diproyeksikan naik sekitar 2% menjadi US$1,18, lalu menguat ke US$1,19 dalam enam bulan, dan US$1,20 dalam satu tahun.
Sementara itu, indeks dolar tercatat sudah menguat sekitar 2% sejak konflik di Timur Tengah dimulai, didorong aksi short-covering dan peningkatan permintaan aset safe haven. Namun, pergerakannya kini mulai terbatas seiring perubahan sentimen global.
Inflasi dan Harga Minyak Jadi Faktor Penentu
Kenaikan harga minyak Brent yang sudah melonjak lebih dari 35% menjadi salah satu faktor utama yang menekan stabilitas pasar. Lonjakan ini mulai terlihat dampaknya pada inflasi, baik di Amerika Serikat yang mencapai 3,8% maupun di zona euro yang berada di 3,2%, keduanya masih jauh di atas target bank sentral masing-masing.
Tekanan inflasi ini membuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter berubah. Pasar kini mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, bahkan sebagian mulai memperkirakan kemungkinan kebijakan yang lebih ketat jika tekanan harga terus berlanjut di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sikap Bank Sentral dan Sentimen Pasar
Sejumlah pejabat The Fed juga mulai menunjukkan nada lebih hawkish, seiring kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Di sisi lain, European Central Bank masih diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini, menurut hasil survei terpisah.
Di pasar dolar Amerika Serikat, posisi investor masih cenderung bertahan pada posisi net long setelah reli awal akibat konflik. Namun, ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat pandangan jangka menengah menjadi lebih hati-hati.
“Ketidakpastian masih sangat tinggi, terutama terkait konflik dan dampaknya pada inflasi energi. Setiap hari konflik berlanjut, risiko tekanan inflasi semakin besar,” ujar salah satu analis valuta asing dalam laporan tersebut.
Meski begitu, sebagian strategi pasar menilai pelemahan dolar yang terjadi kemungkinan hanya bersifat sementara, mengingat ketahanan ekonomi AS dan sikap kebijakan moneter yang masih ketat.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com