Sebuah distrik sekolah di Kentucky, Amerika Serikat, berhasil memperoleh sekitar US$27 juta atau setara Rp440 miliar melalui penyelesaian gugatan terhadap sejumlah perusahaan media sosial. Dalam kesepakatan tersebut, Meta menjadi pihak yang membayar kompensasi terbesar, yakni US$9 juta, terkait tuduhan bahwa platform digital mereka berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental di kalangan pelajar.
Dokumen yang diperoleh Reuters menunjukkan bahwa operator Facebook, Instagram, dan WhatsApp mencapai kesepakatan dengan Breathitt County School District pada 21 Mei 2026, hanya beberapa pekan sebelum persidangan dijadwalkan berlangsung. Selain Meta, penyelesaian juga dilakukan oleh Snap, induk YouTube Alphabet, serta ByteDance sebagai pemilik TikTok.
Berdasarkan rincian kesepakatan, TikTok dan Snap masing-masing membayar US$8 juta. Sementara itu, YouTube menyetujui pembayaran sebesar US$2,01 juta dan akan memberikan pelatihan khusus terkait Google Classroom serta produk pendidikan lainnya kepada distrik sekolah tersebut.
Seluruh perusahaan yang terlibat tidak mengakui adanya pelanggaran hukum dalam penyelesaian tersebut. Kesepakatan juga tidak mewajibkan perubahan terhadap fitur atau desain platform media sosial mereka. Perusahaan-perusahaan itu sebelumnya membantah tuduhan yang diajukan dan menegaskan telah menerapkan berbagai langkah untuk menjaga keamanan pengguna remaja.
Gugatan Terkait Kesehatan Mental Siswa
Breathitt County School District menuduh platform-platform tersebut sengaja dirancang untuk meningkatkan keterikatan pengguna muda sehingga memicu berbagai masalah kesehatan mental siswa, termasuk kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri. Menurut penggugat, dampak tersebut pada akhirnya menjadi beban tambahan bagi sekolah.
Dalam gugatannya, distrik sekolah tersebut meminta ganti rugi lebih dari US$60 juta untuk membiayai program kesehatan mental selama 15 tahun. Mereka juga sempat meminta pengadilan memerintahkan perusahaan media sosial mengubah fitur-fitur yang dianggap bersifat adiktif.
Kasus ini menjadi perhatian karena dijadwalkan sebagai perkara percontohan pertama dalam rangkaian gugatan media sosial yang telah dikonsolidasikan di pengadilan federal California. Putusan atau hasil penyelesaian pada kasus percontohan semacam ini biasanya digunakan sebagai acuan untuk menilai potensi nilai gugatan lain yang masih berjalan.
Ribuan Gugatan Masih Berjalan
Meski Breathitt County hanya melayani sekitar 1.600 siswa di enam sekolah, perkara serupa juga diajukan oleh distrik sekolah yang jauh lebih besar. Salah satunya adalah Tucson Unified School District di Arizona yang melayani sekitar 40.000 siswa dan dijadwalkan menjalani persidangan pada Februari mendatang.
Distrik tersebut menuntut lebih dari US$1,1 miliar untuk mendanai program kesehatan mental selama 15 tahun, ditambah lebih dari US$100 juta sebagai kompensasi atas waktu dan sumber daya yang telah digunakan guru serta staf sekolah dalam menangani dampak penggunaan media sosial.
Sistem sekolah publik Los Angeles dan New York City, yang secara gabungan melayani lebih dari 1,2 juta siswa, juga termasuk dalam daftar penggugat terhadap perusahaan media sosial.
Di sisi lain, Meta telah memperingatkan investor bahwa tekanan hukum dan regulasi terkait isu kesehatan mental remaja di Amerika Serikat maupun Uni Eropa berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kinerja bisnis dan hasil keuangan perusahaan.
Saat ini terdapat lebih dari 3.300 gugatan terkait dugaan kecanduan media sosial yang masih diproses di pengadilan negara bagian California. Selain itu, sekitar 2.400 perkara lain yang diajukan oleh individu, pemerintah daerah, negara bagian, dan distrik sekolah juga masih berlangsung di pengadilan federal.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com