GE Aerospace Pertahankan Prospek Laba 2026 di Tengah Tekanan Industri Penerbangan

GE Aerospace

GE Aerospace tetap berada di jalur untuk mencapai batas atas proyeksi laba 2026, meski industri penerbangan global menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak, terbatasnya pasokan bahan bakar jet, dan perlambatan pertumbuhan penerbangan.

Perusahaan menargetkan laba per saham yang disesuaikan di kisaran US$7,10 hingga US$7,40 pada 2026. Dalam proyeksi terbarunya, GE Aerospace memperkirakan harga minyak Brent masih akan bertahan tinggi hingga kuartal ketiga sebelum mulai mereda menjelang akhir tahun.

Lonjakan harga bahan bakar jet akibat ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang menekan industri penerbangan. Kondisi ini berdampak pada margin maskapai dan mendorong sejumlah operator untuk meninjau kembali kapasitas penerbangan mereka.

GE Aerospace kini memperkirakan pertumbuhan penerbangan global hanya berada pada level flat hingga low single-digit, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran mid-single-digit.

Perusahaan juga melihat adanya risiko penyesuaian dari maskapai, termasuk potensi penundaan pengiriman mesin dan pengurangan aktivitas perawatan apabila kondisi pasar melemah.

Di tengah tekanan tersebut, bisnis layanan GE Aerospace tetap menunjukkan ketahanan. Aktivitas penerbangan yang masih berjalan menopang permintaan perawatan mesin pesawat, yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama perusahaan.

Sebagian besar pekerjaan perawatan untuk 2026 sudah terikat dalam kontrak jangka panjang. Selain itu, permintaan suku cadang masih melampaui kapasitas pasokan, sehingga memberikan bantalan terhadap potensi perlambatan industri.

CEO Larry Culp menegaskan bahwa hingga saat ini belum terlihat perubahan signifikan dari perilaku pelanggan, dengan maskapai masih menjalankan jadwal perawatan sesuai rencana.

GE Aerospace menilai perlambatan aktivitas penerbangan lebih cenderung menunda permintaan dibandingkan menghilangkannya. Secara historis, permintaan layanan perawatan mesin biasanya baru terdampak sekitar satu tahun setelah perubahan aktivitas penerbangan.

Keterbatasan pasokan pesawat baru dari Boeing dan Airbus juga membuat maskapai cenderung memperpanjang usia armada yang ada, sehingga kebutuhan perawatan tetap tinggi.

Pada kuartal pertama, GE Aerospace mencatat laba US$1,86 per saham, lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar US$1,60. Perusahaan juga mencatat peningkatan pengiriman mesin seiring perbaikan rantai pasok.

Meski terdapat isu teknis pada program mesin GE9X untuk Boeing 777X, perusahaan menegaskan bahwa jadwal pengembangan tetap berjalan dan solusi perbaikan sedang difinalisasi.

Saham GE Aerospace tercatat melemah tipis sekitar 1% pada awal perdagangan setelah laporan dirilis.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *