Meta Kembangkan AI Fotorealistik Mark Zuckerberg untuk Interaksi Internal Karyawan

Meta AI Mark Zuckerberg
Sumber Foto : Google

Meta dilaporkan tengah mengembangkan AI fotorealistik Mark Zuckerberg yang dirancang untuk berinteraksi langsung dengan karyawan dan memberikan arahan strategis saat sang CEO tidak hadir. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat komunikasi internal sekaligus meningkatkan efisiensi kerja di tengah transformasi berbasis kecerdasan buatan.

Teknologi tersebut dikembangkan dengan melatih model AI menggunakan data perilaku, pola bicara, hingga pernyataan publik Mark Zuckerberg terkait arah kebijakan perusahaan. Dengan pendekatan ini, Meta menargetkan sistem mampu mereplikasi persona sang CEO secara akurat dan konsisten kepada lebih dari 79.000 karyawan yang tersebar secara global.

Mengutip laporan Engadget, Zuckerberg turut terlibat langsung dalam proses pengembangan. Ia disebut mengalokasikan waktu sekitar lima hingga sepuluh jam setiap pekan untuk melakukan peninjauan teknis hingga aktivitas pengodean secara mandiri, atau yang dikenal sebagai “vibe coding”.

Selain untuk kebutuhan internal, AI fotorealistik Meta ini juga diproyeksikan memiliki potensi komersial. Perusahaan melihat peluang teknologi tersebut untuk digunakan oleh kreator digital dan influencer dalam mengelola kehadiran virtual mereka di berbagai platform secara lebih efisien.

Dorong Efisiensi dan Restrukturisasi

Sejalan dengan pengembangan ini, Meta juga menggarap proyek terpisah berupa agen AI yang berfungsi membantu Zuckerberg dalam mengolah informasi internal dan mempercepat pengambilan keputusan. Inisiatif ini muncul di tengah dorongan manajemen agar seluruh karyawan mengadopsi alat berbasis AI dalam operasional harian.

Dalam pernyataannya kepada investor, Zuckerberg menegaskan bahwa investasi pada teknologi AI memungkinkan perusahaan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan struktur tim yang lebih ramping. Langkah ini beriringan dengan kabar rencana restrukturisasi besar yang diperkirakan berdampak pada sekitar 20% tenaga kerja.

Para manajer produk di internal perusahaan juga mulai melatih staf melalui program standarisasi kemampuan AI, termasuk latihan “vibe coding” untuk mempercepat adaptasi teknologi baru di lingkungan kerja.

Tantangan Infrastruktur dan Rekam Jejak

Di sisi lain, pengembangan avatar digital ini menghadapi tantangan signifikan, terutama kebutuhan daya komputasi yang besar. Sejumlah sumber internal menyebut proyek tersebut berpotensi membebani infrastruktur digital Meta yang saat ini sudah dalam kondisi terbatas.

Sebelumnya, Meta sempat meluncurkan chatbot berbasis selebritas pada Oktober 2023. Proyek tersebut dihentikan kurang dari setahun akibat berbagai ulasan negatif dan kontroversi terkait respons sistem.

Baru-baru ini, Meta juga merilis model AI bernama “Muse Sparks” melalui unit Superintelligence Labs. Model tersebut diklaim lebih hemat daya dan cepat, meski sejumlah pengamat menilai performanya masih tertinggal dibandingkan pesaing di industri AI global.

Melalui pengembangan AI fotorealistik Mark Zuckerberg, Meta berharap dapat menciptakan standar baru dalam interaksi kepemimpinan digital. Ke depan, karyawan yang tetap berada di perusahaan kemungkinan akan berinteraksi langsung dengan versi digital CEO untuk mendapatkan arahan operasional secara real time.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *