AI Dinilai Sering Keliru di Tahap Awal Diagnosis Medis, Studi Ungkap Tingkat Kesalahan Tinggi

AI Diagnosis
Sumber Foto : Canva

Penggunaan diagnosis AI medis dalam membantu identifikasi penyakit ternyata masih menyimpan kelemahan serius di tahap awal penentuan kondisi pasien. Studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open menemukan model kecerdasan buatan sering gagal dalam menyusun dugaan awal penyakit, dengan tingkat kesalahan yang bisa melampaui 80 persen kasus. Temuan ini menyoroti meningkatnya risiko kesalahan diagnosis AI jika teknologi digunakan tanpa pengawasan tenaga medis.

Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa kedokteran Harvard, Arya Rao, yang menguji 21 model AI dalam 29 skenario medis berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun diagnosis AI medis mampu mencapai akurasi tinggi pada tahap akhir ketika data pasien sudah lengkap, kemampuan tersebut menurun drastis pada fase awal ketika dokter biasanya masih menyusun beberapa kemungkinan penyakit.

Akurasi Tinggi di Tahap Akhir, Namun Lemah di Awal

Dalam kondisi diagnosis akhir dengan data medis yang lebih lengkap, model AI yang diuji mampu mencapai tingkat keberhasilan sekitar 91 persen. Namun, performa tersebut tidak tercermin pada tahap awal diagnosis, yang justru menjadi fase paling krusial dalam proses medis.

Pada tahap awal ini, sistem kesalahan diagnosis AI muncul secara signifikan karena model kesulitan menangani ketidakpastian klinis. Peneliti menegaskan bahwa fase ini adalah bagian paling kompleks dalam dunia medis, di mana dokter biasanya masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum menentukan diagnosis final.

Arya Rao menyebutkan bahwa hampir seluruh model yang diuji gagal memberikan analisis yang tepat pada tahap awal tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan diagnosis AI medis belum sepenuhnya siap digunakan sebagai alat utama dalam pengambilan keputusan klinis.

AI Tampak Percaya Diri, Namun Belum Didukung Penalaran Medis Kuat

Ahli radiologi dari Massachusetts General Hospital, Marc Succi, menyoroti bahwa banyak model AI cenderung memberikan jawaban dengan tingkat kepercayaan tinggi, meski tidak selalu didukung oleh penalaran medis yang kuat. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, baik bagi pasien maupun pengguna awam.

Menurut para peneliti, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko kesalahan diagnosis AI, terutama jika masyarakat menggunakan teknologi ini sebagai rujukan utama tanpa konsultasi tenaga medis profesional. Dalam beberapa kasus, AI memang memberikan jawaban yang sebagian benar dengan tingkat akurasi umum di kisaran 63 hingga 78 persen, namun angka tersebut belum dianggap cukup aman untuk diagnosis mandiri.

Risiko Penggunaan Tanpa Pengawasan Medis

Para peneliti menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dijadikan “dokter pertama” dalam menentukan penyakit. Penggunaan diagnosis AI medis tanpa pengawasan berpotensi memicu keputusan yang keliru, termasuk keterlambatan penanganan, prosedur medis yang tidak diperlukan, hingga peningkatan biaya pengobatan.

Selain itu, fase awal diagnosis yang penuh ketidakpastian membuat teknologi ini rentan menghasilkan kesalahan diagnosis AI yang berdampak serius pada proses pengambilan keputusan medis.

Meski demikian, peneliti juga mengakui bahwa AI tetap memiliki potensi besar sebagai alat bantu dalam dunia kesehatan, terutama jika digunakan sebagai pendukung analisis dokter, bukan pengganti.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *