Operasi Jarak Jauh dengan Robot Bedah China Tembus Ribuan Kilometer, Dunia Medis Masuki Era Baru

Robot Bedah China
Sumber Foto ; Canva

Teknologi robot bedah jarak jauh kembali mencatat terobosan penting setelah seorang dokter asal Polandia berhasil melakukan operasi dari jarak lebih dari 7.000 kilometer terhadap pasien di China. Prosedur ini menjadi bukti nyata bahwa operasi jarak jauh lintas negara kini bukan lagi konsep masa depan, melainkan solusi medis yang mulai diterapkan secara global.

Operasi tersebut dilakukan dari Polandia oleh Piotr Suwalski, yang mengendalikan robot bedah di Rumah Sakit China Barat Universitas Sichuan, Chengdu. Proses berlangsung selama sekitar dua jam dan berjalan sukses, dengan hasil yang disebut lebih minim pendarahan dibandingkan metode bedah konvensional seperti torakotomi.

Keberhasilan ini merupakan bagian dari tujuh operasi jarak jauh yang telah dilakukan sejak diresmikannya pusat robotik internasional rumah sakit tersebut pada 21 Maret lalu. Fasilitas ini dirancang sebagai platform kolaborasi global untuk mendorong transformasi layanan kesehatan dari model “pasien datang ke dokter” menjadi “teknologi mendatangi pasien”.

Efisiensi Biaya dan Waktu Pasien

Pihak rumah sakit menyebut teknologi ini mampu memangkas beban pasien secara signifikan. Dengan bantuan robot bedah jarak jauh, pasien tidak lagi harus bepergian ke kota besar untuk menjalani operasi.

Wu Hong, wakil presiden rumah sakit, menjelaskan bahwa pada kasus operasi hepatobilier dan pankreas, pasien dapat menghemat waktu dan biaya hingga 80 persen. Hal ini dinilai menjadi solusi bagi akses layanan medis di wilayah terpencil atau negara dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Untuk menjamin keamanan, pusat tersebut dilengkapi tim multidisiplin yang siaga selama 24 jam, mencakup ahli bedah, anestesi, perawat, hingga teknisi jaringan dan perangkat medis.

Teknologi China Semakin Mendunia

Keunggulan teknologi ini juga dirasakan oleh dokter dari berbagai negara. Salah satunya Carlos Eduardo Domene dari Brasil yang melakukan operasi jarak jauh terhadap pasien di negaranya dari pusat yang sama. Ia menilai sistem robotik tersebut memiliki kualitas gambar tinggi dengan latensi nyaris nol, yang sangat krusial dalam prosedur medis presisi.

Penggunaan teknologi ini juga menjadi bagian dari ekspansi global melalui Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra, yang mendorong distribusi perangkat medis China ke berbagai kawasan, termasuk Amerika Selatan.

Data industri menunjukkan pertumbuhan signifikan. Ekspor robot bedah China melonjak hingga 368,1 persen pada 2025 secara tahunan. Sementara itu, total ekspor peralatan medis mencapai 45,8 miliar dolar AS, meningkat 62,4 persen dibandingkan 2019.

Pertumbuhan ini menandai pergeseran industri dari sekadar kompetitif dari sisi biaya menjadi berbasis inovasi teknologi dan kekuatan merek.

Menuju Standar Global Baru

Pada 2026, China juga mulai menerapkan pedoman resmi terkait penetapan harga layanan robot bedah, yang diperkirakan akan mempercepat adopsi teknologi ini secara lebih luas dan terstruktur.

Dalam konferensi internasional robot bedah yang digelar di Chengdu akhir Maret, lebih dari 700 pakar dari berbagai negara membahas masa depan teknologi ini. Fokus utama mencakup peningkatan jaringan operasi jarak jauh, pengembangan talenta medis, hingga inovasi berkelanjutan.

Rumah Sakit China Barat Universitas Sichuan bahkan berencana membangun pusat kendali robot bedah di Mesir pada pertengahan tahun ini, sebagai langkah memperluas akses teknologi dan meningkatkan kemampuan tenaga medis lokal.

Ke depan, kolaborasi internasional diyakini menjadi kunci untuk menghadirkan teknologi robot bedah jarak jauh yang semakin presisi, cerdas, dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *