Industri private credit AS mulai menghadapi tekanan serius seiring meningkatnya risiko gagal bayar pinjaman, memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar. Sejumlah analis memperingatkan bahwa lonjakan default dapat mengganggu pertumbuhan sektor ini, meski belum mengarah pada krisis sistemik.
Tekanan terbaru muncul setelah Blue Owl membatasi penarikan dana investor dari dua produk ritel unggulannya. Kebijakan ini langsung berdampak pada harga saham perusahaan yang sempat anjlok tajam. Sentimen negatif juga menyeret saham sejumlah manajer aset besar seperti Apollo Global, Blackstone, Ares Management, KKR, dan Carlyle Group, meski sebagian berhasil pulih mengikuti penguatan pasar secara umum.
Sepanjang tahun ini, kapitalisasi pasar gabungan perusahaan-perusahaan tersebut telah menyusut hingga sekitar US$132 miliar. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas industri private credit AS.
Risiko dari Konsentrasi Sektor Teknologi
Salah satu sumber utama risiko berasal dari tingginya eksposur pada perusahaan perangkat lunak. Banyak portofolio private credit terpusat pada sektor ini, yang kini menghadapi disrupsi akibat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
Analis Barclays menilai bahwa ketergantungan pada sektor tertentu meningkatkan potensi gagal bayar, terutama jika perusahaan-perusahaan tersebut kehilangan daya saing. Morgan Stanley bahkan memperkirakan tingkat default tahunan bisa mencapai 8% dalam periode paruh kedua 2026 hingga awal 2027.
Pertumbuhan Melambat, Risiko Tetap Terkendali
Selama satu dekade terakhir, private credit berkembang pesat dan menjadi alternatif pembiayaan utama bagi perusahaan kecil dan menengah yang sulit mengakses pinjaman bank. Pada 2025, sektor ini menyumbang sekitar 30% dari pasar leveraged finance di AS, naik signifikan dari 13% sepuluh tahun sebelumnya.
Namun, tanda-tanda pelemahan mulai terlihat, terutama setelah kebangkrutan perusahaan suku cadang otomotif First Brands yang memicu kekhawatiran kualitas kredit.
Meski demikian, otoritas keuangan menilai risiko sistemik masih relatif rendah. Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan belum ada indikasi gangguan yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Hal ini didukung oleh kondisi perbankan yang dinilai lebih kuat serta permintaan investor institusional yang tetap stabil.
Di sisi lain, tekanan terhadap valuasi diperkirakan masih akan berlanjut. Morningstar mencatat banyak manajer aset saat ini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, dengan diskon mencapai 15%.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com