Perang Iran manufaktur global memicu lonjakan biaya produksi dan gangguan rantai pasok pada Maret, mengancam pemulihan sektor industri yang masih rapuh. Kenaikan harga energi dan hambatan logistik membuat banyak pabrik di berbagai negara tertekan, meski indikator aktivitas manufaktur terlihat meningkat.
Survei menunjukkan konflik di Timur Tengah telah memperlambat pengiriman barang, mendorong inflasi biaya input, serta mengganggu jaringan logistik global. Kondisi ini membuat banyak produsen menaikkan harga jual untuk menutup biaya yang membengkak.
Namun, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) yang biasanya mencerminkan ekspansi justru terdistorsi. Ekonom S&P Global, Chris Williamson, menilai kenaikan PMI sebagian dipicu oleh lamanya waktu pengiriman, bukan peningkatan permintaan riil.
Di kawasan euro, PMI manufaktur naik menjadi 51,6 pada Maret dari 50,8 pada Februari, melampaui perkiraan awal. Meski berada di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi, kenaikan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang kuat.
Perbedaan kinerja antarnegara juga terlihat jelas. Jerman dan Italia mencatat pertumbuhan terbaik dalam beberapa tahun terakhir, sementara Spanyol masih berada di zona kontraksi. Yunani mencatat kinerja tertinggi, diikuti Irlandia, sedangkan sektor manufaktur Prancis cenderung stagnan.
Di Inggris, tekanan biaya meningkat tajam seiring gangguan pengiriman akibat kapal-kapal yang menghindari Selat Hormuz. Waktu pengiriman tercatat paling lama sejak pertengahan 2022.
Tekanan Berat di Asia
Dampak dampak perang Iran Asia terasa lebih besar karena kawasan ini menyerap sekitar 80% pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz. Lonjakan harga energi langsung memukul biaya operasional industri.
Beberapa negara mulai merasakan dampaknya secara nyata. Harga solar di Manila dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat. Vietnam menghadapi potensi krisis bahan bakar jet, sementara perusahaan kosmetik Korea Selatan kesulitan mendapatkan bahan baku seperti resin plastik.
Di China, aktivitas manufaktur masih tumbuh untuk bulan keempat berturut-turut, namun dengan laju yang melambat. PMI manufaktur turun menjadi 50,8 dari sebelumnya 52,1, di bawah ekspektasi analis.
Perlambatan juga terjadi di sejumlah negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, Vietnam, Taiwan, dan Filipina. Hal ini menunjukkan tekanan dari konflik Timur Tengah mulai meluas ke berbagai sektor industri.
Jepang turut terdampak dengan penurunan aktivitas manufaktur dan lonjakan biaya input tertinggi dalam 19 bulan terakhir. PMI manufaktur Jepang turun menjadi 51,6 dari 53,0 pada Februari.
Sementara itu, Korea Selatan menjadi pengecualian dengan pertumbuhan manufaktur tercepat dalam lebih dari empat tahun, didorong oleh permintaan semikonduktor dan peluncuran produk baru.
Secara keseluruhan, lonjakan biaya energi dan gangguan logistik akibat konflik Iran memperbesar ketidakpastian global. Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan sektor manufaktur yang sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com