Nike memperkirakan penurunan penjualan pada kuartal keempat, memicu kejatuhan saham lebih dari 9% dalam perdagangan setelah jam bursa. Proyeksi ini mencerminkan tekanan berlanjut di pasar global, khususnya akibat melemahnya permintaan di China dan lambatnya pemulihan bisnis.
Manajemen menyebutkan, penjualan diperkirakan turun sekitar 2% hingga 4% pada kuartal berjalan. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan. Kondisi ini mempertegas bahwa proses pemulihan kinerja perusahaan masih menghadapi tantangan besar.
CEO Elliott Hill mengakui transformasi bisnis yang tengah dijalankan belum berjalan secepat yang diharapkan. Perusahaan saat ini berupaya menekan promosi, meningkatkan inovasi produk, serta kembali fokus pada lini utama seperti kategori lari untuk mendorong pertumbuhan.
Sementara itu, Kepala Keuangan Matt Friend menyoroti tekanan signifikan dari pasar China. Penjualan di wilayah tersebut tercatat turun 10%, meskipun lebih baik dibandingkan penurunan 16% pada kuartal sebelumnya. Namun, perusahaan memperkirakan penurunan bisa semakin dalam hingga 20% pada kuartal berikutnya.
Tekanan China dan Persaingan Lokal
China yang merupakan pasar terbesar ketiga Nike kini menjadi sumber tekanan utama. Selain faktor internal seperti kesalahan operasional, perusahaan juga menghadapi persaingan ketat dari merek lokal seperti Anta dan Li Ning.
Meski demikian, segmen produk lari menunjukkan pertumbuhan dua digit di wilayah tersebut. Hal ini memberi sinyal adanya peluang pemulihan, meski manajemen mengingatkan bahwa prosesnya tidak akan berjalan mulus atau konsisten.
Beban Stok dan Tekanan Margin
Di sisi lain, masalah inventaris masih membayangi kinerja global. Nike terus melakukan diskon agresif untuk mengurangi stok lama, terutama di pasar Eropa. Strategi ini berdampak langsung pada margin keuntungan yang semakin tertekan.
Perusahaan juga memperkirakan tingkat persediaan akan tetap tinggi hingga kuartal berikutnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh lemahnya permintaan produk olahraga, tingginya intensitas promosi, serta gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.
Dengan berbagai tantangan tersebut, prospek penjualan Nike dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian, meski perusahaan terus mendorong strategi perbaikan untuk mengembalikan pertumbuhan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com