Alaska Air Group memperkirakan kerugian kuartal pertama 2026 akan jauh lebih besar dari proyeksi awal, seiring lonjakan harga minyak global yang menekan kinerja maskapai. Kenaikan tajam harga bahan bakar akibat konflik Iran memperburuk tekanan yang sudah muncul dari melemahnya permintaan di sejumlah rute.
Maskapai tersebut kini memproyeksikan rugi bersih yang disesuaikan berada di kisaran US$1,5 hingga US$2 per saham. Angka ini lebih dalam dibandingkan estimasi sebelumnya yang hanya berkisar antara US$0,5 hingga US$1,5 per saham.
Kenaikan harga minyak global menjadi faktor utama. Harga minyak Brent tercatat melonjak sekitar 58% sepanjang bulan ini—lonjakan bulanan terbesar sejak 1988 menurut data LSEG, bahkan melampaui kenaikan saat Perang Teluk 1990. Kondisi ini mendorong harga bahan bakar aviasi berada di kisaran US$2,9 hingga US$3 per galon, yang berdampak tambahan terhadap laba per saham setidaknya sebesar US$0,7.
Tekanan Industri Penerbangan
Lonjakan biaya energi ini dinilai sebagai ujian finansial pertama bagi industri penerbangan Amerika Serikat sejak pandemi. Maskapai dengan kondisi keuangan lemah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar, mulai dari pengurangan kapasitas, peningkatan utang, hingga kerugian yang lebih dalam. Sebaliknya, pemain besar diperkirakan tetap ekspansif dan memperkuat pangsa pasar.
Saham Alaska Air tercatat turun sekitar 1,1% dalam perdagangan pra-pasar, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan biaya dan permintaan.
Permintaan Melemah di Rute Tertentu
Selain faktor biaya, Alaska Air juga menghadapi penurunan permintaan di beberapa destinasi utama. Perjalanan ke Meksiko melemah akibat ketegangan di Puerto Vallarta, sementara cuaca ekstrem berupa badai dan banjir di Hawaii turut menekan trafik. Kedua wilayah tersebut menyumbang sekitar 30% dari total kapasitas maskapai.
Perusahaan menyebut dampak tersebut sudah terasa sejak Maret dan diperkirakan berlanjut hingga April, termasuk selama periode puncak liburan musim semi di wilayah West Coast.
Meski demikian, segmen perjalanan korporasi tetap menunjukkan kinerja positif. Pemesanan untuk 90 hari ke depan tercatat meningkat lebih dari 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memberikan sinyal pemulihan di segmen premium.
Alaska Air juga menyatakan optimistis menghadapi kuartal mendatang yang secara historis menjadi periode terkuat, seiring meningkatnya permintaan musiman.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com