OECD Pangkas Pertumbuhan UK Akibat Dampak Perang Iran

Pertumbuhan ekonomi Inggris diproyeksikan hanya 0,7% tahun ini, turun signifikan dari perkiraan sebelumnya 1,2%, akibat dampak perang Iran, menurut laporan terbaru Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD). Inflasi juga diperkirakan melonjak lebih tinggi dari prediksi awal.

OECD menekankan konflik yang berkepanjangan dapat menimbulkan kekurangan energi global, sementara kenaikan harga pupuk yang tajam berisiko menekan hasil pertanian dan mendorong lonjakan harga pangan tahun depan. Kenaikan harga minyak dan gas terjadi setelah gangguan pasokan akibat penutupan efektif Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah.

Dampak langsung sudah terasa di Inggris: harga bensin dan solar meningkat, biaya pemanas rumah naik, dan sejumlah bank menaikkan suku bunga hipotek serta menghapus ratusan paket pinjaman. OECD memperingatkan periode harga energi tinggi yang berkepanjangan akan menekan pertumbuhan ekonomi, memicu inflasi, dan membatasi kemungkinan penurunan suku bunga.

Inflasi dan Pertumbuhan Terkoreksi

Secara global, OECD mempertahankan proyeksi pertumbuhan G20 sebesar 2,9% untuk 2026, namun memperkirakan inflasi rata-rata naik menjadi 4%, naik dari perkiraan sebelumnya 2,8%. Di Inggris, inflasi kini diprediksi mencapai 4%, jauh lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya 2,5%, dan diperkirakan turun ke 2,6% pada 2027.

Di antara negara G7, hanya Amerika Serikat yang diperkirakan memiliki inflasi lebih tinggi dari Inggris, sedangkan Italia diproyeksikan mencatat pertumbuhan lebih lemah. OECD menyatakan prediksi ini bergantung pada asumsi gangguan pasar energi mereda dan harga minyak, gas, serta pupuk turun mulai musim panas.

Pemerintah Inggris, melalui Kanselir Rachel Reeves, menegaskan telah menyiapkan rencana untuk melindungi keluarga dari gejolak global, meski langkah bantuan dibatasi oleh aturan utang dan target menjaga inflasi serta suku bunga rendah. Sebaliknya, oposisi menyoroti kelemahan ekonomi akibat kebijakan pemerintah saat ini.

Dampak Langsung pada Bisnis

Perusahaan ritel juga merasakan tekanan. Stuart Machin, CEO M&S, menyebut biaya “policy costs” untuk energi melonjak dan tak sebanding dengan harga minyak global. Sementara itu, Next mengantisipasi tambahan biaya £15 juta bila perang Iran berlangsung tiga bulan, meski sejauh ini dampak itu masih ditutupi oleh efisiensi lain.

OECD menekankan pentingnya kebijakan jangka menengah yang meningkatkan penggunaan energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Bantuan rumah tangga harus tepat sasaran, sementara insentif untuk efisiensi energi tetap dipertahankan.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *